Tag: Kampung Budaya Piji wetan

  • Jaladara Collectiva:  Menghidupkan Tradisi Rewang melalui Seni Kontemporer

    Jaladara Collectiva: Menghidupkan Tradisi Rewang melalui Seni Kontemporer

    KUDUS – Pameran Folktarium Residensi Tapa Ngeli Muria yang berlangsung di Piji Wetan, Kabupaten Kudus, dari tanggal 21 hingga 27 April 2025, menampilkan karya-karya menarik dari 15 seniman individu dan kolektif se-Jawa Tengah dan DIY.

    Salah satu yang mencuri perhatian adalah karya Jaladara Collectiva, sebuah kolektif seniman perempuan yang mengangkat tema peran perempuan dalam tradisi “rewang” di daerah tersebut.

    Bertajuk “Pawon: Perigi di Balik Panggung Perayaan”, pameran ini menyoroti peran penting perempuan dalam rewang sebagai bentuk solidaritas, pengetahuan, dan pengambilan keputusan sosial.

    Anis Machfudoh, salah satu seniman Jaladara, menjelaskan, pameran ini merupakan kelanjutan dari Residensi Tapa Ngeli yang diikuti pada akhir Januari 2025.

    “Saat residensi, kami belajar banyak hal, terutama peran perempuan di Muria, khususnya di Piji Wetan. Tradisi rewang ibu-ibu Piji Wetan merupakan ruang kolektif penting. Melaluinya, pengetahuan diwariskan dengan solidaritas,” ujarnya.

    Jaladara Collectiva menampilkan instalasi alat-alat dapur, yang biasanya berada di belakang, untuk ditampilkan di ruang publik.

    “Rewang yang identik dengan dapur, area yang seringkali tak disorot, kini kita pamerkan. Berbagai perkakas dan aktivitas dapur kita tampilkan di depan umum,” jelasnya.

    Selain instalasi, mereka juga membuat zine berisi cerita perempuan Piji Wetan dalam rewang, glosarium seputar dapur, dan visual rewang.

    Puncaknya, pertunjukan interaktif antara Jaladara dan ibu-ibu Piji Wetan menampilkan kegiatan memasak, membuat dan menyeduh kopi, serta nginang – tradisi yang mulai ditinggalkan.

    Pameran ini berhasil menyajikan perspektif baru tentang peran perempuan dalam menjaga dan melestarikan tradisi lokal.

    (red)

  • Kampung Budaya Piji Wetan Gelar Pameran Residensi “Tapa Ngeli: Muria, Santri, Kretek”

    KUDUS – Kampung Budaya Piji Wetan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, menggelar pameran residensi bertajuk “Tapa Ngeli: Muria, Santri, Kretek”. Pameran yang berlangsung dari 21 hingga 26 April 2025 ini menampilkan 15 karya seni dari seniman residensi se-Jawa Tengah dan DIY.

    Karya-karya tersebut merupakan hasil visualisasi dari perjumpaan warga dan seniman selama dua bulan terakhir, merepresentasikan kehidupan masyarakat di lereng Muria melalui tiga tema besar: Muria, Santri, dan Kretek.

    Pameran ini merupakan yang pertama kali diadakan di Kabupaten Kudus dan digelar di “Folktarium Muria,” sebuah museum terbuka di Dukuh Piji Wetan.

    Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan, Muchamad Zaini (Jessy Segitiga), menjelaskan pameran ini tak hanya menampilkan karya seni rupa, tetapi juga instalasi seni, penanda situs budaya, dan berbagai kebudayaan warga yang tersebar di 15 titik.

    “Pameran ini menghidupkan kembali folklore di Muria melalui berbagai pendekatan dari perspektif seniman masing-masing,” ujarnya Minggu (20/4/2025).

    Jessy menambahkan, pameran ini mengajak pengunjung menyelami kebudayaan Muria masa lampau, mengenalkan cerita sejarah, mitos, dongeng, dan legenda yang berkembang di Piji Wetan.

    “Semua itu divisualisasikan melalui karya dan pertunjukan di Folktarium Muria,” paparnya.

    Selain pameran, juga disuguhkan pertunjukan seni dan ruang diskusi terbuka untuk membangun narasi kebudayaan dan pendidikan, membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai lokal.

    Jessy berharap, Kampung Budaya Piji Wetan dapat membangun pembangunan berkelanjutan yang memadukan pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi lokal, dengan tetap berakar pada nilai-nilai sufistik dan kearifan lokal.

    Kurator pameran, Karen Hardini, menambahkan pameran ini menjadi perjumpaan seniman dan kolektif seni dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dan DIY, termasuk A.O.D.H, Budi Kusriyanto, dan lainnya.

    “Setelah menyelami Kudus pada Februari hingga April 2025, mereka membuat karya yang merepresentasikan Kudus sebagai subjek budayanya, sedangkan seniman merupakan sarananya,” ungkap Karen.

    Karya-karya yang dipamerkan beragam bentuknya, dari arsip, audio-video, instalasi, hingga seni lingkungan. Karen melihat pameran ini melengkapi Folktarium Muria untuk menarasikan ulang cerita rakyat di kawasan Muria dan memperpanjang ikatan akar budaya masyarakat Muria-Kudus.

    (red)

  • Kampung Budaya Piji Wetan: Menjaga Warisan UNESCO Melalui Batik Tulis

    KUDUS – Kampung Budaya Piji Wetan Kudus menggelar workshop membatik tulis yang diikuti oleh anak muda dan warga di Panggung Ngepringan Desa Lau, Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (8/4/2025).

    Kegiatan kolaborasi warga dengan seniman residensi Tapangeli ini bertujuan untuk menghidupkan kembali esensi membatik tulis dan melestarikan batik sebagai warisan budaya dunia.

    Sekitar 20 peserta, dibimbing oleh seniman batik asal Lasem, Divasio Putra Suryawan, berkreasi menciptakan pola-pola batik dengan tema harapan dan ingatan terhadap budaya Muria. Proses pembuatan batik, mulai dari pembuatan pola hingga mencanting dengan lilin malam, menunjukkan betapa rumitnya proses pembuatan batik tulis.

    Candra Asih (20), peserta asal Jepara yang pertama kali mencoba mencanting, mengungkapkan kesulitannya.

    “Pengen tahu rasanya membatik, ternyata sulit, jadi kita bisa lebih menghargai karya batik,” ujarnya.

    Divasio Putra Suryawan, seniman residensi Tapangeli, menjelaskan alasan di balik kolaborasi ini. Ia ingin mengajak warga untuk mengingat kembali dan mengembalikan esensi budaya melalui membatik, serta menyoroti maraknya eksploitasi budaya dengan metode printing yang keliru disebut batik.

    “Sekarang banyak eksploitasi atas nama budaya, seperti printing yang seharusnya tidak disebut batik,” tegasnya.

    Divo, sapaan akrab seniman muda asal Rembang ini, menekankan pentingnya menjaga integritas batik sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui UNESCO sejak 2009.

    Batik, menurutnya, didefinisikan sebagai karya yang dihasilkan dari proses mencanting atau cap menggunakan lilin malam panas di atas kain. Ia menyayangkan praktik-praktik tidak jujur yang mengatasnamakan batik demi kepentingan pribadi.

    “Semakin ke sini, banyak ketidakjujuran yang mengatasnamakan batik dengan kepentingan pribadi,” imbuhnya.

    Hasil karya workshop ini akan dipamerkan dalam pameran instalasi Residensi Tapangeli Kampung Budaya Piji Wetan pada 21-27 April 2025. Workshop ini diharapkan dapat memberikan gambaran lanskap budaya di Lereng Muria, baik budaya lisan, benda, maupun arsitektur, yang kemudian dapat dialihmediakan dan diarsipkan melalui karya seni agar tetap lestari.

    “Yang nantinya bisa dialihmediakan dan diarsipkan melalui karya seni sehingga tetap lestari,” pungkasnya.

    (red)

  • Kampung Budaya Piji Wetan Kudus Gelar Workshop Manajemen Seni Bersama Yayasan Biennale Yogyakarta

    KUDUS – Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, sebuah desa yang dikenal dengan kekayaan budayanya, menyelenggarakan Workshop Manajemen Seni bersama Yayasan Biennale Yogyakarta pada Jumat (10/1/2025).

    Agenda ini bertujuan untuk memberikan penguatan wawasan pengelolaan seni kepada para seniman muda di kampung tersebut.

    Workshop yang diikuti oleh puluhan peserta ini diselenggarakan di Taman Sardi, Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Manager Residensi Yayasan Biennale Yogyakarta, Putri Harbie, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi untuk meningkatkan pengalaman seniman dalam mengelola kegiatan seni.

    “Program ini, kami membagikan pengalaman dalam pengelolaan seni di komunitas supaya dapat mengalokasikan sumber daya yang lebih baik dan terencana,” ujar Putri Harbie.

    Tidak hanya pembekalan materi terkait pengelolaan seni, para peserta juga diminta untuk membuat program dengan pendampingan mentor dari Biennale Jogja. Hal ini bertujuan untuk membekali para seniman muda di Kampung Budaya Piji Wetan yang akan mengadakan program residensi pada akhir Januari mendatang.

    “Banyak yang berpikir bahwa seni itu mengalir dan tidak dikelola, padahal nyatanya perlu ada perencanaan dan pengelolaan yang matang supaya kegiatan seni lebih tertata,” tambah Putri Harbie.

    Senada dengan Putri Harbie, Koordinator Lapangan Biennale Yogyakarta, Sekar Atika, menambahkan bahwa materi yang ditekankan kepada peserta mengarah pada perencanaan program produksi dan manajerial residensi.

    “Produksi program lebih mengarah bagaimana mengkonsep acara yang akan diaplikasikan,” ungkap Sekar Atika.

    Ia berharap, kegiatan ini dapat membekali peserta untuk mengaplikasikan rencana program residensi yang pada kegiatan dan pengalaman kerja-kerja seni di desa.

    “Lebih intens ke manajerial dan pengelolaan program seni dan berbagi pengalaman di desa, seperti festival lima gunung, atau mengangkat seniman dan menyediakan ruang bagi mereka untuk berkesenian,” tambah Sekar Atika.

    Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, Muchammad Zaini, menyatakan bahwa workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di KBPW dalam hal pengelolaan kegiatan seni.

    “Kami belajar manajemen seni supaya ada pengembangan kapasitas, mempunyai mapping kegiatan yang jelas, terarah dan menghasilkan output yang lebih baik,” harapnya.

    (red)

Exit mobile version