Tag: Bahana Swara

  • Pembukaan Class Meeting MA Salafiyah Kajen Meriah dengan Atraksi Marching Band dan Pagar Nusa

    Pembukaan Class Meeting MA Salafiyah Kajen Meriah dengan Atraksi Marching Band dan Pagar Nusa

    PATI – Class Meeting MA Salafiyah Kajen resmi dibuka pada Minggu, 8 Desember 2024 dan berlangsung hingga Rabu, 11 Desember 2024.

    Acara pembukaan yang meriah ini dimeriahkan oleh penampilan memukau dari Marching Band Bahana Swara MA Salafiyah Kajen dan Pagar Nusa Salafiyah. Kedua penampilan tersebut sukses menyita perhatian seluruh siswa dan guru yang hadir.

    Konser Marching Band Bahana Swara menampilkan formasi dan alunan musik yang kompak dan energik. Kekompakan irama musik yang dimainkan berhasil membangkitkan semangat para penonton.

    Penampilan mereka disambut dengan tepuk tangan meriah dan sorak sorai dari seluruh siswa-siswi.

    Sementara itu, penampilan Pagar Nusa Salafiyah menampilkan atraksi bela diri yang memukau. Keindahan gerakan dan kekuatan para pesertanya berhasil memikat perhatian penonton.

    Kemahiran mereka dalam menguasai berbagai teknik bela diri terlihat sangat profesional dan mengagumkan.

    Kedua penampilan tersebut menjadi pembuka yang sempurna untuk Class Meeting MA Salafiyah Kajen.

    Acara ini diharapkan dapat menjadi ajang menyalurkan bakat dan minat siswa, serta mempererat tali persaudaraan antar siswa.

    Selama empat hari, berbagai macam perlombaan dan kegiatan menarik lainnya akan digelar. Diantaranya seperti lomba bulu tangkis, desain grafis, pidato bahasa Arab, dan lainnya.

    (Red)

  • Marching Band Bahana Swara Persembahkan Tema Spektakuler: Mission Impossible

    Marching Band Bahana Swara Persembahkan Tema Spektakuler: Mission Impossible

    PATI, TUTURMEDIA.COM – Marching Band Bahana Swara (MBBS) MA Salafiyah Kajen selalu menampilkan tema-tema unik dan kreatif dalam pengambilan tema setiap tahunnya.

    Pada acara kirab budaya untuk memperingati haul Syekh Ahmad Mutamakkin di Desa Kajen tahun 2024 yang dilaksanakan setiap 10 Muharram, mereka memperkenalkan tema baru yang menarik, “Mission impossible: The way to find the truth”.

    Manajer MBBS, Muhammad Haris Ibnu Malik, mengungkapkan, tema ini terinspirasi dari film “Mission Impossible” yang menggambarkan perjalanan yang penuh misteri dan tantangan untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya.

    “Seperti agen rahasia yang beroperasi di balik layar dan menghadapi berbagai intrik, tema ini memberikan pesan untuk selalu waspada dan teliti dalam setiap langkah yang diambil,” ungkap dia.

    Setiap aspek dalam pertunjukan Marching Band, mulai dari aransemen musik, kostum, hingga gerakan visual dirancang untuk mencerminkan semangat tema tersebut.

    “Para anggota Marching band Berperan seperti agen rahasia yang harus bekerja sama, mengumpulkan petunjuk, dan menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai tujuan akhir, yaitu menemukan kebenaran,” katanya.

    Proses mencari kebenaran tidaklah mudah, sebagaimana yang ditunjukkan dalam adegan-adegan aksi mendebarkan dalam film “Mission Impossible”. Tema ini menekankan keberanian dan keteguhan hati untuk menghadapi segala rintangan yang mungkin muncul, sebagaimana agen rahasia yang merancang strategi untuk menyelesaikan misi yang dianggap tidak mungkin.

    “Melalui tema ini, MBBS MA Salafiyah Kajen ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya keberanian, ketekunan, dan kerja sama dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan untuk mencapai kebenaran yang sejati,” ujarnya.

    “Semangat petualangan dan keterampilan strategi yang diperlukan untuk menyelesaikan misi yang dianggap mustahil menjadi nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada penonton, agar dapat menghadapi kehidupan dengan sikap yang lebih berani dan penuh keyakinan,” pungkasnya.

    (Red)

  • Marching Band Bahana Swara MA Salafiyah Kajen Bawakan Tema “Hanuman Duta”, Begini Asal Usul dan Filosofinya

    Marching Band Bahana Swara MA Salafiyah Kajen Bawakan Tema “Hanuman Duta”, Begini Asal Usul dan Filosofinya

    Tuturmedia.com, Pati – Marching Band Bahana Swara (MBBS) MA Salafiyah Kajen turut memeriahkan kirab budaya dalam rangka haul Syekh Ahmad Mutamakkin di Desa Kajen dengan membawakan tema “Hanuman Duta” pada Jumat (28/07/2023).

    Dikutip dari kanal YouTube MBBS Official, Chairul Abrar selaku pembina MBBS dalam naskah sambutan wali kelas yang menjadi cikal bakal tema tersebut menerangkan, tema ini terinspirasi dari lagu “Hanuman Duta” atau “Anoman Obong” yang menceritakan tentang Hanoman,

    seekor monyet putih utusan kerajaan yang memiliki misi untuk menyelamatkan permaisuri raja yang diculik dan dikurung di Kerajaan Alengka. Meski ketahuan, Hanoman tidak terluka saat dihukum dibakar di tiang pancang berkat kesaktiannya.

    Bahkan berhasil melarikan diri dan membakar Kerajaan Alengka serta menghabisi ribuan tentara yang menghadangnya.

    “Judul lagunya Anoman Obong. Sang monyet putih bernama Hanoman yang menjadi tokoh utama. Bukan Rama, sang raja, seperti dalam film-film laga tahun 90-an ataupun pertunjukan wayang yang populer. Hal inilah yang membuat saya tertarik menyimak lagu dari awal sampai akhir,” terangnya.

    (MBBS MA Salafiyah Kajen)

    Lebih lanjut, ia menjelaskan, Hanoman sebagai tokoh marginal juga merupakan simbol untuk mengingatkan akan keberanian rakyat jelata yang seringkali terpinggirkan dan ditindas.

    Dengan kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian sebagai monyet, Hanoman mendapatkan restu dan titah untuk menumpas kejahatan Rahwana.

    “Kerajaan Ayodhya yang lestari di kemudian hari adalah berkat peran penting para monyet, rakyat jelata, yang terpinggirkan yang kerap kali ditindas. Hanoman sadar betul bahwa dirinya terlahir sebagai monyet, makhluk biasa dan sering direndahkan.

    Tapi Hanoman berani menanggung kekurangannya yang dilahirkan sebagai rakyat jelata yang sangat berbeda dengan Rahwana yang jumawa dengan segala kekuasaannya,” jelasnya.

    Terakhir, lagu ini menjadi pengingat akan pentingnya menghargai peran rakyat jelata dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi negara.

    “Mengingat kembali Hanoman dengan demikian adalah meneladani keberaniannya, sekaligus sebagai peringatan pada sebuah titah untuk menumpas Rahwana yang bermuka sepuluh:

    otoriter, musyrik, manipulatif, koruptif, kolutif, nepotis, represif, batil, lalim, dan sak karepe dewe (berbuat seenaknya),” pungkasnya.

    (Red)