Sragen – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sragen mengeluarkan pernyataan sikap tegas menyusul tragedi kekerasan yang mengakibatkan meninggalnya seorang pelajar di SMPN 2 Sumberlawang.
Organisasi pelajar di bawah naungan Nahdlatul Ulama ini menyampaikan duka cita mendalam sekaligus mengutuk keras aksi penganiayaan yang dilakukan oleh sesama pelajar tersebut. Kejadian ini dinilai sebagai alarm keras bagi dunia pendidikan di Kabupaten Sragen atau yang dikenal dengan sebutan Bumi Sukowati.
Ketua PC IPNU Sragen, Rekan Bayu Aris P., menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan tidak dapat ditoleransi. Menurutnya, insiden ini merupakan tamparan bagi semangat pelajar yang seharusnya mengedepankan akhlakul karimah.
“Tindakan ini merupakan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan mencederai semangat pelajar. Kami mengecam keras segala bentuk perundungan (bullying) dan kekerasan di sekolah,” tegas Bayu dalam pernyataan resminya, Jumat (10/4).
Dalam pernyataan tersebut, PC IPNU IPPNU Sragen menekankan lima poin utama sebagai respons atas tragedi memilukan ini:
1. Kecaman Keras: Mengutuk segala bentuk perundungan (bullying) dan kekerasan di lingkungan sekolah.
2. Desakan Hukum: Meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini secara transparan agar memberikan efek jera dan keadilan bagi keluarga korban.
3. Peran Orang Tua: Mengingatkan bahwa pendidikan karakter bermula dari rumah, sehingga pengawasan terhadap perilaku anak menjadi tanggung jawab utama.
4. Evaluasi Pihak Sekolah: Mendesak guru dan sekolah untuk memperketat pengawasan demi mewujudkan Sekolah Ramah Anak serta sistem deteksi dini terhadap konflik antar-pelajar.
5. Seruan Damai: Mengajak seluruh pelajar di Sragen mengedepankan dialog dan persaudaraan daripada unjuk kekuatan yang berujung maut.
PC IPNU IPPNU Sragen berharap tragedi ini menjadi yang terakhir di dunia pendidikan. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal isu keamanan pelajar guna mewujudkan ekosistem pendidikan yang aman, damai, dan bermartabat di Kabupaten Sragen.
“Tidak boleh ada lagi air mata ibu yang jatuh karena anaknya tidak pulang dari sekolah akibat kekerasan,” pungkas Bayu.
