Patiayam Fokus Penyulaman Bibit demi Kawasan yang Lebih Hijau

Kudus652 Dilihat

KUDUS – Upaya penghijauan di kawasan Puncak Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, terus digalakkan. Setelah ribuan pohon berhasil ditanam dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah desa bersama kelompok tani kini memprioritaskan penyulaman bibit yang mati dan penanaman lanjutan secara bertahap.

Kepala Desa Terban, Supeno, menyatakan langkah ini diambil agar program perhutanan sosial berjalan optimal. Penyulaman dinilai krusial untuk mengganti tanaman yang gagal tumbuh akibat faktor cuaca, kondisi tanah, maupun perawatan di masa awal tanam.

“Mulai 2024 sampai 2026 fokus kami penyulaman bibit yang mati dan penanaman lanjutan supaya kawasan Patayam benar-benar hijau,” ujarnya.

Program ini sebenarnya telah berjalan sejak tahun 2020 dengan konsep utama penanaman tanaman buah. Pemilihan jenis tanaman ini dilakukan karena lebih diminati petani dibandingkan tanaman keras seperti jati atau mindi.

“Tanaman buah ini memiliki nilai ekonomi yang lebih cepat dirasakan masyarakat sekaligus mampu menjaga kelestarian lingkungan,” tukasnya.

Program tersebut mendapatkan dukungan dana CSR sekitar Rp5 miliar pada tahun 2022 yang digunakan untuk penghijauan di lahan seluas kurang lebih 250 hektare. Kemudian pada 2023, penanaman kembali dilanjutkan di area seluas 100 hektare.

“Untuk bibit yang ditanam meliputi mangga, alpukat hingga petai. Setiap kelompok tani diberi kesempatan memilih jenis tanaman sesuai kebutuhan dan kondisi lahan garapan masing-masing,” tandasnya.

Supeno menjelaskan, proses penyulaman dilakukan secara bertahap. Selain itu, jarak tanam juga diatur sekitar delapan hingga sepuluh meter agar pertumbuhan pohon lebih maksimal.

“Kalau terlalu rapat, nanti pertumbuhannya tidak maksimal karena saling berebut air dan unsur hara,” katanya.

Dijelaskannya, kawasan Patiayam dulunya sempat mengalami kerusakan lingkungan yang parah pascareformasi. Banyak pohon ditebang dan lahan beralih fungsi menjadi pertanian jagung sehingga perbukitan tampak gersang. Namun, sejak keluarnya izin Perhutanan Sosial (IPHPS) pada 2018, arah pengelolaan lahan berubah menjadi penghijauan.

Menurut Supeno, pendekatan dengan tanaman buah terbukti lebih efektif karena memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kalau tanaman buah, petani lebih semangat merawat karena hasilnya bisa dinikmati. Jadi penghijauan tetap jalan dan ekonomi warga juga terbantu,” terangnya.

Hingga saat ini, perubahan positif mulai terlihat nyata. Lahan yang dulunya tandus perlahan berubah menjadi lebih rindang dan hijau berkat berbagai jenis tanaman buah yang dikembangkan warga.

(red)