Pasca Banjir Kudus, Dinkes Catat 28 Kasus Penyakit Kulit dan 24 Kasus ISPA

Kudus16 Dilihat

KUDUS – Keluhan kesehatan warga terdampak banjir di Kabupaten Kudus didominasi oleh penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kudus mencatat bahwa sebanyak 106 warga pengungsi mendapatkan layanan medis dalam pemeriksaan kesehatan serentak yang diselenggarakan pada Selasa, 13 Januari 2026, di enam titik lokasi pengungsian dan posko banjir.

Sekretaris Dinkes Kudus, Nuryanto, menyampaikan bahwa pemeriksaan kesehatan tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya penyakit menular maupun penyakit akibat lingkungan yang kotor dan lembap pascabanjir.

“Mayoritas keluhan warga berkaitan dengan penyakit kulit dan ISPA. Ini penyakit yang paling sering muncul saat bencana banjir,” ujarnya.

Lokasi dengan jumlah pasien terbanyak berada di Gedung Serbaguna RW 02, di mana tim medis melayani 31 pasien. Keluhan ISPA dan penyakit kulit mendominasi pemeriksaan di posko ini. Selain itu, petugas juga menangani kasus luka terbuka akibat aktivitas warga di lingkungan tergenang air.

“Beberapa pasien dengan riwayat asma juga mengalami sesak napas yang dipicu udara dingin dan lembap,” bebernya.

Di Posko Banjir RW 06, sebanyak 23 warga memeriksakan kesehatan. Penyakit kulit kembali menjadi keluhan utama, diikuti oleh hipertensi yang banyak dialami warga lanjut usia. Menurutnya, tekanan darah tinggi pada pengungsi dipengaruhi oleh kelelahan fisik, stres, dan pola istirahat yang terganggu selama masa banjir.

Sementara itu, Posko Banjir RW 07 melayani 20 pasien dengan keluhan terbanyak berupa penyakit kulit atau dermatitis. Penyakit ini dialami warga dari berbagai kelompok usia akibat kontak langsung dan berulang dengan air banjir. Selain itu, keluhan sakit kepala juga cukup sering ditemukan di lokasi tersebut.

Di Mushola Baitul Khoir RW 09, tercatat 14 warga menjalani pemeriksaan kesehatan. Berbeda dengan posko lain, keluhan nyeri otot atau myalgia cukup menonjol di sini, yang berkaitan dengan aktivitas fisik berat yang dilakukan warga saat menyelamatkan barang-barang rumah tangga dari genangan air.

“ISPA juga masih ditemukan pada sebagian pasien,” bebernya.

Pelayanan kesehatan di RPTRA Karang Anyar mencatat 12 pasien dengan keluhan yang didominasi oleh ISPA dan hipertensi. Lokasi yang terbuka membuat suhu udara terasa lebih dingin pada malam hari, sehingga meningkatkan risiko terjadinya batuk dan pilek.

“Adapun Posko Banjir RW 08 menjadi lokasi dengan kunjungan paling sedikit, yakni enam pasien, dengan keluhan penyakit kulit, ISPA, serta gangguan pencernaan ringan,” tukasnya.

Secara keseluruhan, Dinkes Kudus mencatat terdapat 28 kasus penyakit kulit, 24 kasus ISPA, dan 18 kasus hipertensi. Seluruh penanganan dilakukan langsung di lokasi menggunakan stok obat dari puskesmas setempat.

“Hingga kini, kondisi kesehatan pengungsi dinyatakan terkendali dan belum ditemukan kasus yang memerlukan rujukan darurat. Kami mengimbau warga tetap menjaga kebersihan diri untuk mencegah penyakit pascabanjir,” pungkasnya.

(red)