KUDUS — Di tengah menyempitnya ruang bermain anak akibat dominasi gawai dan pola interaksi digital, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) menghadirkan program Dolanano Cah!, sebuah inisiatif edukatif-kultural yang berfokus pada pelestarian permainan tradisional sekaligus penguatan karakter, kesehatan mental, dan kemampuan sosial anak di Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Program Dolanano Cah! resmi dimulai pada hari pertama pelaksanaan KKN dengan memperkenalkan dua permainan tradisional, yakni gobak sodor dan ular naga. Sejak awal kegiatan, antusiasme anak-anak terlihat jelas. Lapangan MI Miftahul Falah berubah menjadi ruang sosial yang hidup—dipenuhi tawa, gerak, dan kerja sama spontan yang menunjukkan kerinduan anak-anak terhadap interaksi nyata di luar layar.
Anak-anak terlibat aktif dalam permainan, belajar menyusun strategi, bekerja sama dalam tim, serta menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang. Proses bermain ini menjadi media alami untuk melatih pengendalian emosi, empati, dan sportivitas—nilai-nilai dasar yang kerap tergerus oleh pola bermain individual berbasis gawai.
Koordinator Desa KKN UMKU Desa Cendono, Yazid, menegaskan bahwa Dolanano Cah! dirancang bukan sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai proses pembelajaran sosial yang berkelanjutan.
“Di hari pertama saja sudah terlihat bagaimana anak-anak begitu bersemangat ketika diberi ruang bermain yang sehat. Ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak kehilangan energi, mereka hanya kehilangan ruang. Dolanano Cah! kami jalankan sebagai upaya mengembalikan ruang itu hingga akhir masa KKN, 2 Januari,” ujar Yazid.
Sepanjang pelaksanaan KKN, tim mahasiswa akan memperkenalkan 14 jenis permainan tradisional anak secara bertahap. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim KKN UMKU juga tengah menyusun modul permainan tradisional anak yang dirancang agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat desa, sekolah, dan komunitas pemuda setempat.
Modul tersebut diharapkan menjadi pijakan agar program Dolanano Cah! tetap berjalan meskipun masa KKN telah usai, sekaligus menjadi referensi edukatif dalam upaya menjaga warisan budaya lokal dan membangun ekosistem bermain yang sehat bagi anak.
Dukungan atas pelaksanaan kegiatan ini datang dari tokoh masyarakat setempat. Kepala Dusun Kawakan Desa Cendono, Bapak Haji Gufron, mengapresiasi inisiatif tersebut.
“Bagus Mas, lanjutkan,” ungkapnya singkat saat menyaksikan langsung jalannya kegiatan.
Melalui Dolanano Cah!, mahasiswa KKN UMKU menegaskan bahwa pendidikan karakter dan kesehatan mental anak tidak selalu membutuhkan pendekatan kompleks. Permainan tradisional yang sederhana justru menyimpan nilai-nilai paling mendasar tentang kebersamaan, ketahanan emosi, dan rasa memiliki terhadap komunitas.
Di Desa Cendono, permainan tradisional tidak lagi sekadar dikenang, tetapi kembali dijalankan—sebagai fondasi sosial bagi tumbuhnya generasi yang lebih sehat secara mental, kuat secara karakter, dan sadar akan akar budayanya.
(red)






