Mahasiswa KKN UMKU Edukasi Pencegahan Stunting dengan Olahan Daun Kelor di Desa Cendono

Kudus756 Dilihat

KUDUS – Pencegahan stunting tidak cukup hanya melalui pemeriksaan rutin dan imbauan kesehatan. Tantangan utama terletak pada bagaimana pengetahuan gizi dapat dipahami, diterima, dan diwujudkan dalam praktik sehari-hari oleh keluarga.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) menyelenggarakan program edukasi pencegahan stunting yang digabungkan dengan pengenalan olahan daun kelor di Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, pada Senin (22/12/2025).

Program ini fokus pada edukasi gizi keluarga dengan mengangkat stunting sebagai kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang, yang memberikan dampak pada kesehatan, kemampuan belajar, serta kualitas hidup anak di masa depan. Edukasi disampaikan dengan gaya komunikatif agar mudah dipahami oleh para ibu, terutama terkait penyebab, ciri-ciri, dan langkah pencegahan stunting sejak dini.

Koordinator program, Pramudya Novita Sari, menjelaskan bahwa pendekatan edukasi tersebut sengaja dirancang agar tidak hanya sebatas pemaparan materi.

“Kami ingin edukasi ini benar-benar membumi. Tidak hanya bicara tentang apa itu stunting, tetapi juga bagaimana keluarga bisa melakukan pencegahan dengan langkah sederhana dan realistis,” ujarnya.

Untuk memperkuat materi edukasi, mahasiswa KKN UMKU memperkenalkan daun kelor sebagai salah satu sumber pangan lokal yang kaya gizi. Dalam brosur yang dibagikan kepada peserta, daun kelor diperkenalkan sebagai superfood karena mengandung protein, kalsium, zat besi, vitamin A, C, dan E, serta antioksidan yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan mencegah anemia pada anak.

Materi kesehatan disampaikan oleh Ns. Sri Karyati, M.Kep., Sp. Kep. Mat., yang menegaskan bahwa pencegahan stunting harus berfokus pada pemenuhan gizi yang berkelanjutan di tingkat keluarga.

“Stunting bukan terjadi dalam semalam. Ini akibat kekurangan gizi kronis. Karena itu, solusi pencegahan harus dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, salah satunya melalui pemanfaatan pangan lokal yang mudah diakses,” jelasnya.

Sebagai bentuk konkret dari edukasi tersebut, mahasiswa KKN UMKU melakukan demonstrasi pembuatan puding daun kelor. Olahan ini dipilih karena mudah dibuat, bahan-bahannya terjangkau, dan rasanya dapat diterima oleh anak-anak. Resep serta komposisi puding kelor juga dicantumkan dalam leaflet agar dapat dipraktikkan secara mandiri di rumah.

Ketua Kelompok 10 KKN UMKU, Yazid, menegaskan bahwa pengenalan puding daun kelor bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari strategi edukasi.

“Kami menjadikan edukasi stunting sebagai program utama. Puding daun kelor kami hadirkan sebagai jembatan agar pesan gizi tidak berhenti di forum, tetapi sampai ke dapur keluarga dan pola makan anak sehari-hari,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa respons masyarakat menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan pendekatan tersebut.

“Antusiasme ibu-ibu dan anak-anak menunjukkan bahwa edukasi yang disertai contoh nyata jauh lebih mudah diterima. Ini yang kami harapkan bisa berlanjut setelah kegiatan selesai,” tambah Yazid.

Sepanjang kegiatan, peserta mengikuti seluruh rangkaian acara dengan aktif. Beberapa ibu bahkan menyatakan ketertarikannya untuk mengolah puding daun kelor kembali sebagai menu pendukung gizi keluarga.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kudus berupaya mendorong pencegahan stunting melalui edukasi yang aplikatif dan pemanfaatan pangan lokal, dengan harapan dapat terbentuk kesadaran gizi keluarga yang berkelanjutan di tingkat masyarakat.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *