KUDUS – Upaya melestarikan batik Kudus perlu diperkuat dengan mengenalkan kembali sejarah, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap motifnya. Pemahaman masyarakat mengenai batik dinilai semakin berkurang, termasuk dalam membedakan batik asli dengan kain tekstil bermotif batik.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat menghadiri workshop membatik tingkat pemula di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (16/10). Ia menekankan pentingnya menggali kembali makna batik agar warisan budaya tersebut tetap terjaga dan relevan bagi generasi mendatang.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Rerie itu mengungkapkan, batik Kudus pernah mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya mengalami kemunduran. Menurutnya, pelestarian batik tidak cukup dilakukan dengan menjaga keberadaan produknya, tetapi juga harus disertai pemahaman terhadap filosofi dan nilai budaya yang diwariskan.
“Batik itu di Kudus nyaris hilang. Dulu pernah berjaya, kemudian tergerus masa. Mulai melunturnya pemahaman tentang batik itu sendiri,” ujarnya.
Rerie menjelaskan, pemahaman mengenai batik harus mencakup proses pembuatannya hingga filosofi yang melatarbelakangi setiap motif. Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dalam mempertahankan identitas budaya lokal agar tidak terputus dari generasi ke generasi.
“Apa yang kita lakukan berkumpul sebetulnya sedang menghubungkan masa lalu dan masa kini untuk membangun masa depan,” katanya.
Ia turut menyoroti kekayaan sejarah Kudus yang dapat ditelusuri melalui Situs Patiayam. Kawasan tersebut menyimpan berbagai temuan fosil fauna purba, termasuk stegodon, yang menjadi bukti perjalanan sejarah dan peradaban di wilayah tersebut.
Menurut Rerie, kekayaan sejarah dan nilai-nilai lokal Kudus masih perlu terus ditelusuri serta diperkenalkan kepada masyarakat luas. Salah satu warisan yang perlu mendapat perhatian ialah Batik Demaan, yang memiliki karakteristik dan filosofi tersendiri.
“Memahami batik sebenarnya sedang memahami identitas kita,” tegasnya.
110 Pelajar Ikuti Pelatihan Membatik
Semangat menghidupkan kembali batik Kudus diwujudkan melalui workshop membatik yang melibatkan sekitar 110 pelajar SMA/SMK dari Kabupaten Kudus, Jepara, dan Demak. Kegiatan ini menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal batik lebih dekat, tidak hanya sebagai bagian dari dunia fesyen, tetapi juga sebagai warisan budaya yang perlu dijaga.
Ketua KNPI Kudus Agus Kurniawan menyampaikan, pelatihan tersebut bertujuan menumbuhkan ketertarikan anak muda terhadap batik sekaligus mempersiapkan generasi penerus yang memiliki keterampilan membatik.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu memberikan manfaat berkelanjutan sehingga para peserta dapat mengembangkan kemampuan yang diperoleh, bukan sekadar mengikuti pelatihan tanpa tindak lanjut.
“Kalau anak-anak kita berhenti, tidak ada generasi penerus. Ketika itu berhenti, nanti melihat batik atau cara membatik harus keluar negeri,” ujarnya.
Dalam workshop tersebut, para peserta diperkenalkan dengan batik klasik yang mengangkat motif flora dan fauna Patiayam. Mereka juga mendapat kesempatan mempraktikkan tahapan dasar membatik, mulai dari menggambar pola hingga menggunakan canting.
Antusiasme turut dirasakan Safira Kinar Balqies, siswi kelas XI SMA NU Al Ma’ruf Kudus. Ia mengaku senang dapat mencoba langsung proses membatik untuk pertama kalinya dan berharap pengalaman tersebut menjadi awal untuk mengembangkan kreativitasnya di bidang desain batik.
“Ini baru pertama kali ikut workshop membatik. Seru saja dan penasaran bagaimana rasanya membatik. Semoga nanti bisa menjadi desainer batik sendiri di Kudus,” ungkapnya.
Melalui kegiatan yang memadukan pengenalan sejarah, pemahaman filosofi, dan praktik membatik, diharapkan semakin banyak generasi muda yang mengenal kekhasan batik Kudus. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadikan batik sebagai pakaian, tetapi juga ikut memahami, melestarikan, dan meneruskan warisan budaya tersebut.
(red)
