KUDUS – Destinasi wisata dan penginapan Joglo Dopang di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, menunjukkan kinerja yang cukup stabil meski memasuki musim hujan menjelang akhir tahun 2025. Pengelola menilai bahwa kondisi cuaca dan akses jalan tidak lagi memberikan dampak besar seperti pada tahun sebelumnya.
Owner Joglo Dopang, Heni Widyastuti, menyampaikan bahwa tingkat kunjungan wisatawan dari Oktober hingga Desember 2025 cenderung merata setiap bulannya. Tidak ada peningkatan yang sangat signifikan, namun juga tidak terjadi penurunan yang drastis meskipun intensitas hujan semakin tinggi.
“Kalau dilihat dari Oktober sampai Desember, jumlah pengunjung hampir sama rata setiap bulan,” ujarnya, saat dikonfirmasi Senin (22/12/2025).
Selain sebagai tempat wisata yang mengusung konsep alam dan budaya, Joglo Dopang juga telah mulai mengembangkan fasilitas penginapan. Fasilitas tersebut secara resmi dibuka pada pertengahan November 2025, dengan konsep terbatas dan eksklusif.
Menurut dia, saat ini penginapan hanya beroperasi pada akhir pekan untuk menyesuaikan kondisi kesiapan fasilitas dan sumber daya yang ada.
“Penginapan baru mulai buka pertengahan November dan sementara ini hanya buka saat weekend,” jelasnya.
Heni mengatakan, hingga menjelang musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), belum ada tamu yang melakukan pemesanan kamar secara resmi. Namun, sejumlah calon tamu telah mulai berkomunikasi dan menanyakan tentang ketersediaan kamar. Saat ini, Joglo Dopang menyediakan dua kamar penginapan yang masih dalam proses penyempurnaan fasilitas.
“Belum ada booking, tapi sudah ada yang tanya-tanya. Kami memang masih fokus melengkapi fasilitas kamar supaya tamu lebih nyaman,” katanya.
Untuk periode libur Nataru, Joglo Dopang menetapkan tarif sebesar Rp500 ribu per malam untuk setiap kamar penginapan. Harga tersebut dianggap sepadan dengan konsep penginapan yang menyatu dengan alam serta suasana khas lereng Muria yang damai dan sejuk.
Mengenai aksesibilitas, Heni mengakui bahwa musim hujan tetap memberikan pengaruh pada jumlah kunjungan, meskipun tidak terlalu besar. Ia menilai bahwa kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu, ketika cuaca ekstrem dan kerusakan jalan menuju Rahtawu menyebabkan jumlah wisatawan menurun dengan sangat drastis.
“Sekarang memang masih musim hujan, jadi pengunjung agak berkurang, tapi hanya sedikit. Tidak separah tahun kemarin yang berkurang banyak karena cuaca ekstrem dan jalan rusak,” ungkapnya.
Perbaikan akses jalan menuju kawasan Rahtawu dinilai cukup membantu dalam meningkatkan rasa aman dan kenyamanan bagi wisatawan. Dengan kondisi jalan yang lebih baik, wisatawan tetap memiliki minat untuk berkunjung meskipun harus menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca.
Ke depannya, pengelola Joglo Dopang berharap bahwa penyempurnaan fasilitas penginapan serta stabilitas infrastruktur pendukung dapat mendorong peningkatan jumlah kunjungan, terutama pada saat musim liburan dan akhir pekan. Joglo Dopang ditargetkan menjadi salah satu pilihan alternatif wisata dan penginapan berbasis alam yang nyaman serta berkelanjutan di lereng Muria.
(red)






