KUDUS – Menyusun sistem penanganan sampah yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Kudus. Saat ini, pemda tengah menyusun sejumlah langkah strategis melalui pelaksanaan workshop studi kelayakan yang digelar selama dua hari.
Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dan pendampingan teknis dari Pemerintah Swedia yang disalurkan melalui Kementerian PUPR, tepatnya Direktorat Sanitasi, dengan Kudus ditetapkan sebagai salah satu daerah penerima manfaat program tersebut.
Plt Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan Hidup, Dyah Wendy, menyampaikan bahwa kajian yang dilakukan mencakup seluruh rangkaian proses, mulai dari sumber timbulan sampah hingga pengolahan akhirnya, sehingga tersusun sistem pengelolaan yang menyeluruh.
Hasil studi ini nantinya akan menjadi acuan resmi penyusunan kebijakan, baik untuk jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang yang mencakup rentang waktu 20 tahun mendatang.
“Melalui studi ini, kita ingin tahu apa yang harus dilakukan Kudus dalam waktu dekat, menengah, dan jangka panjang agar pengelolaan sampah menjadi lebih optimal,” ujarnya.
Workshop tersebut melibatkan berbagai elemen pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah, pelaku dunia usaha, tenaga pengajar dan peneliti dari perguruan tinggi, hingga perwakilan masyarakat. Pada hari pertama, peserta tidak hanya berkumpul di ruang rapat, namun juga diajak turun langsung ke lapangan untuk meninjau kondisi Tempat Pembuangan Akhir, guna mendapatkan gambaran nyata mengenai tantangan dan kondisi yang ada di lokasi.
“Bahkan, kami juga mengajak mereka meninjau langsung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk melihat kondisi riil di lapangan,” katanya.
Dari diskusi dan pengamatan yang dilakukan, terungkap bahwa permasalahan sampah ternyata jauh lebih rumit dan luas cakupannya dibandingkan dugaan awal.
Kesepahaman pun terbentuk di antara seluruh peserta, bahwa urusan ini tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah saja, melainkan memerlukan partisipasi aktif dan kesadaran seluruh lapisan masyarakat.
Memasuki hari kedua, tim konsultan menyajikan paparan rinci mengenai besaran kebutuhan investasi dan pengaturan logistik yang dibutuhkan untuk mewujudkan sistem pengelolaan yang ideal.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menangani sampah sejak dari sumbernya, salah satunya dengan menerapkan pemilahan di tingkat rumah tangga.
“Teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa pengelolaan dari sumber. Bahkan biaya bisa lebih besar dan alat cepat rusak jika pemilahan tidak berjalan,” jelas Dyah.
Berdasarkan hasil analisis awal, kondisi penanganan sampah di Kudus saat ini masih jauh dari harapan. Permasalahan ditemukan di setiap tahapan, mulai dari belum teraturnya sistem pemilahan, proses pengumpulan yang belum merata, hingga teknik pengolahan akhir yang masih perlu ditingkatkan.
Di antara berbagai kendala, rendahnya kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari rumah menjadi tantangan utama yang harus segera dicarikan solusinya.
Sebagai langkah awal perbaikan, pemerintah daerah telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti PKK dan organisasi lingkungan hidup, untuk menjalankan program percontohan di sejumlah desa.
Program ini bertujuan membiasakan keluarga untuk mulai memilah sampah sesuai jenisnya sebelum diserahkan ke petugas pengangkut.
Namun di sisi lain, masih ada kendala besar yang harus dihadapi, yaitu ketersediaan dana. Diperkirakan, untuk menjalankan sistem yang ideal, dibutuhkan anggaran sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar setiap tahunnya.
Besaran nilai tersebut dinilai cukup berat jika hanya mengandalkan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah saja.
Oleh karena itu, Pemkab Kudus membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pihak swasta untuk berkolaborasi, baik dalam bentuk kerja sama maupun investasi, sebagai alternatif pendanaan.
Harapan besarnya, dokumen hasil kajian ini tidak hanya berakhir sebagai tumpukan kertas, melainkan benar-benar diterapkan dan diwujudkan, sehingga terbentuk sistem pengelolaan sampah yang efisien, ramah lingkungan, dan dapat bertahan dalam jangka panjang.
(red)
