Ketika Masyarakat Tahu Kekuranganmu, tetapi Tetap Menghormatimu

Artikel57 Dilihat

Tuturmedia, Artikel –

Belajar Menerima Sesama Tanpa Membenarkan Kesalahannya

Bayangkan seorang warga di lingkunganmu. Ia rajin datang ke pengajian, pertemuan warga, dan dikenal aktif dalam kegiatan sosial. Namun, semua orang juga tahu ia punya kebiasaan berutang. Belum lunas di satu tempat, ia sudah berutang lagi di tempat lain.

Anehnya, kebiasaan itu tidak membuatnya dijauhi. Ia tetap disapa, ikut terlibat, dan dihormati. Bagaimana seseorang bisa tetap punya tempat di tengah masyarakat, padahal ada sisi hidupnya yang belum ideal?

Dari kacamata psikologi positif, jawabannya bisa kita telusuri lewat konsep kesejahteraan sosial (social well-being).

Sejahtera Itu Tidak Hanya Soal Diri Sendiri

Kesejahteraan psikologis sering dianggap semata-mata urusan pribadi, mulai dari rasa bahagia hingga percaya diri. Kenyataannya, kita tidak pernah benar-benar hidup sendiri, sebab selalu ada keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat.

Keyes (1998) memandang kesejahteraan sosial sebagai bagian dari kesehatan mental positif, yaitu bagaimana seseorang menjalani dan memaknai kehidupannya di tengah masyarakat. Dua dimensinya sangat relevan di sini: penerimaan sosial, yakni kesediaan menerima bahwa manusia itu beragam, dan kontribusi sosial, yakni perasaan bahwa diri kita berharga dan mampu memberi sesuatu bagi lingkungan (Keyes, 2002).

Menerima Bukan Berarti Membenarkan

Masyarakat mengetahui kebiasaan berutang tetangganya, tetapi tetap bergaul dengannya. Ini menunjukkan bahwa menerima seseorang tidak sama dengan menyetujui semua perilakunya.

Ia tetap boleh ikut kerja bakti, sementara pemilik toko berhak menolak memberinya utang lagi. Dua sikap ini tidak bertentangan. Penerimaan sosial tidak melarang adanya batasan; artinya, kita tetap memandang seseorang sebagai manusia dan anggota masyarakat, meskipun tahu ia punya kekurangan (Keyes, 2005).

Sayangnya, begitu seseorang berbuat salah, kita sering langsung berkata, “Dia memang orangnya begitu.” Padahal, manusia jauh lebih kompleks. Orang yang keliru dalam urusan keuangan bisa tetap menyayangi keluarganya dan senang menolong sesama.

Mengakui hal ini bukan berarti mengabaikan kesalahannya; kita hanya tidak menjadikan satu kesalahan sebagai satu-satunya cara memandang dirinya.

Mengapa Ia Tetap Dihargai?

Di sinilah kontribusi sosial berperan. Sumbangsih bisa berupa membantu kegiatan warga, aktif di pengajian, menolong tetangga, atau sekadar hadir ketika lingkungan membutuhkan.

Kita memang tidak bisa menebak alasan seseorang dihormati, sebab tidak tahu seluruh kontribusinya. Namun, fenomena ini menunjukkan bahwa nilai seseorang di mata masyarakat tidak ditentukan oleh satu sisi kehidupannya.

Orang yang bermasalah secara finansial bisa tetap punya peran berarti, dan orang yang sukses secara ekonomi belum tentu punya hubungan sosial yang baik.

Menghormati Bukan Berarti Membiarkan

Lalu, apakah menghormati berarti membiarkan? Belum tentu. Kita bisa berkata, “Saya tetap menghormati Anda, tetapi saya tidak setuju dengan tindakan itu.”

Jika setiap kesalahan membuat seseorang kehilangan seluruh tempatnya, kita akan hidup di tengah masyarakat yang mudah memberi stigma, dan orang yang pernah salah sulit mendapat kesempatan berubah.

Namun, penerimaan tanpa batas juga bukan jawaban. Utang tetap harus dilunasi, dan pihak yang dirugikan berhak menetapkan batas.

Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang menganggap semua perilaku benar, melainkan yang mampu menghargai manusianya tanpa harus membenarkan setiap tindakannya. Masyarakat bukan sekadar tempat seseorang dinilai, tetapi juga sumber dukungan dalam menjalani hidup.

Kita Semua Punya Banyak Sisi

Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan bahwa manusia tidak hanya punya satu sisi. Kita bisa berhasil di satu bidang dan kesulitan di bidang lain, bermanfaat bagi orang lain sambil tetap punya sisi diri yang perlu dibenahi.

Karena itu, kesejahteraan sosial bukan tentang menjadi manusia sempurna, melainkan tentang bagaimana kita menjadi bagian dari kehidupan bersama, menerima keberagaman, merasa berarti bagi lingkungan, dan membangun hubungan yang membuat kita dan orang lain terus bertumbuh.

Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan saat melihat seseorang yang punya kekurangan. Bukan hanya, “Apa yang salah dengan orang ini?” tetapi juga, “Apa yang membuatnya tetap punya tempat di tengah masyarakat?” dan “Bagaimana kita bisa menerimanya tanpa membenarkan perilakunya?”

Sebab, masyarakat tidak membutuhkan manusia yang sempurna, melainkan mereka yang mampu hidup berdampingan, saling menghargai, berkontribusi, dan tetap punya ruang untuk memperbaiki diri.

Oleh: Arinie Meuthia Meellati Al Haqie
(Mahasiswa Magister Psikologi, Unika Soegijapranata)

Daftar Pustaka

Keyes, C. L. M. (1998). Social well-being. Social Psychology Quarterly, 61(2), 121–140. https://doi.org/10.2307/2787065

Keyes, C. L. M. (2002). The mental health continuum: From languishing to flourishing in life. Journal of Health and Social Behavior, 43(2), 207–222. https://doi.org/10.2307/3090197

Keyes, C. L. M. (2005). Mental illness and/or mental health? Investigating axioms of the complete state model of health. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 73(3), 539–548. https://doi.org/10.1037/0022-006X.73.3.539