Guru SD di Kudus Dibekali Kemampuan Deteksi Gangguan Mata Siswa Sejak Dini

Kudus490 Dilihat

KUDUS – Puluhan guru Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Kudus kini dibekali keterampilan melakukan pemeriksaan sederhana ketajaman penglihatan siswa. Langkah ini diambil untuk mendeteksi sejak dini gangguan kesehatan mata yang kerap luput dari pantauan di lingkungan sekolah.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Rotary Club Kudus, Rotary Club Kudus Srikandi, dan Rotary Club Semarang Kunti, bekerja sama dengan Rumah Sakit Mardi Rahayu serta Puskesmas Wergu, Kecamatan Kota. Kegiatan ini diikuti oleh 50 guru yang mewakili 22 SD di wilayah binaan Puskesmas Wergu.

Presiden Rotary Club of Kudus, Paulus Rawuh, menjelaskan setiap sekolah mengirimkan dua hingga tiga tenaga pendidik. Mereka dilatih melakukan penyaringan atau screening ketajaman penglihatan sederhana yang nantinya bisa dilaksanakan secara berkala di sekolah masing-masing.

“Tujuannya supaya gangguan penglihatan pada anak bisa diketahui sejak dini, sehingga penanganan dan pencegahan kebutaan dapat dilakukan dengan tepat,” kata Paulus.

Dalam pelatihan tersebut, para guru diperkenalkan penggunaan Kartu Snellen untuk mengukur kemampuan melihat dengan jarak standar enam meter. Setiap sekolah juga akan menerima fasilitas kartu tersebut guna menunjang pemeriksaan rutin.

Siswa yang menunjukkan indikasi gangguan penglihatan selanjutnya akan dirujuk untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter spesialis mata. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan medis, siswa dapat dibawa ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut dengan dukungan layanan BPJS atau skema pembiayaan lainnya.

“Program tersebut tidak hanya berhenti pada pemeriksaan. Rotary Club juga menyiapkan bantuan kacamata gratis bagi siswa SD dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan,” tambahnya.

Selain itu, tim juga akan mendatangkan mobil klinik pemeriksaan mata dari Semarang untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan lanjutan bersama RS Mardi Rahayu dan Puskesmas Wergu.

Paulus menambahkan inisiatif serupa telah digelar di beberapa daerah lain seperti Pati dan Semarang, dan kini dilanjutkan di Kudus. Deteksi dini dinilai sangat krusial karena gangguan penglihatan pada anak sering kali tidak disadari; kesulitan melihat tulisan di papan atau buku kerap disalahartikan sebagai masalah kemampuan belajar.

“Gangguan penglihatan dapat membuat mereka sulit menyerap pelajaran dan akhirnya berpengaruh terhadap prestasi akademik,” bebernya.

Salah satu kelainan yang paling sering ditemui adalah gangguan refraksi seperti rabun jauh atau mata minus. Selain faktor bawaan, penggunaan gawai dan perubahan pola hidup juga menjadi perhatian utama karena berpotensi memperbesar risiko gangguan penglihatan pada anak.

Sementara itu, Direktur Utama RS Mardi Rahayu, dr Pujianto, menyatakan dukungan penuh terhadap program ini. Pihaknya siap menugaskan tenaga ahli dan menyediakan fasilitas untuk mendukung proses pemeriksaan hingga penanganan siswa yang membutuhkan.

“Guru menjadi agen penting dalam mendeteksi kelainan penglihatan maupun masalah kesehatan lainnya pada anak sejak dini,” ujarnya.

Pujianto mengingatkan masalah penglihatan tidak boleh disepelekan. Pandangan yang kabur saat membaca atau melihat papan tulis dapat memicu keluhan pusing, hilangnya konsentrasi, penurunan minat belajar, hingga berujung pada merosotnya prestasi siswa.

Di tengah masifnya penggunaan perangkat digital saat ini, ia menekankan edukasi kesehatan mata harus berjalan beriringan dengan pemeriksaan berkala.

“Anak perlu dibiasakan membaca dengan posisi yang benar, menjaga jarak pandang, serta menggunakan gawai secara bijak,” jelasnya.

Setelah pelaksanaan tahap ini, penyelenggara akan melakukan evaluasi. Jika angka gangguan penglihatan yang ditemukan cukup tinggi, cakupan program diharapkan dapat diperluas untuk menjangkau lebih banyak sekolah di Kabupaten Kudus.

(Red)