Di Sudut Pasar Baru Kudus, Heru Sahuri Mengayuh Becak Listrik untuk Menopang Hidup

Kudus87 Dilihat

KUDUS – Ketika aktivitas Pasar Baru Kudus mulai ramai setiap pagi, Heru Sahuri sudah siap mengayuh hidupnya dari atas becak listriknya. Lelaki yang tinggal di Desa Gribig, RT 3 RW 4 ini selalu berada di sudut pasar sejak pukul delapan pagi, menanti siapapun yang membutuhkan jasa angkotannya. Kadang ia berjaga hingga siang hari, namun terkadang juga pulang lebih awal—bukan karena kelelahan, melainkan karena sulitnya mendapatkan penumpang.

Heru bukanlah warga asli Kudus. Ia berasal dari Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, dan kemudian menetap bersama istri di tempatnya kini. Sejak satu bulan terakhir, ia beralih menggunakan becak listrik setelah bertahun-tahun menggantungkan hidup pada becak kayuh.

“Biasanya sehari paling banyak dapat empat atau lima penumpang. Kadang malah seharian nggak dapat sama sekali,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).

Setiap malam sebelum bekerja, ia selalu memastikan becak listrik dalam kondisi siap pakai dengan mengecasnya. Rute yang ia layani kebanyakan adalah perjalanan jarak dekat. Misalnya dari Pasar Baru ke kampung sekitar, ia menetapkan tarif sekitar Rp 7 ribu, bahkan seringkali menyerahkan jumlah pembayaran sepenuhnya pada keinginan dan keikhlasan penumpang.

Heru jarang melayani perjalanan jauh. Bukan karena kendaraan tidak mampu atau ia tidak kuat, tetapi karena ia menyadari keterbatasan kondisi dan peluang yang ada. Namun, satu pengalaman spesial selalu terpatri dalam ingatannya: suatu hari, seorang wisatawan dari Makassar meminta dia mengantarnya berkeliling Kota Kudus untuk melakukan ziarah.

“Saya muteri kota, mengantar ziarah. Dikasih Rp150 ribu. Baru sekali itu saya dapat uang sebanyak itu,” kenangnya, dengan senyum tipis yang penuh rasa syukur.

Becak listrik yang kini digunakannya memiliki ruang yang lebih luas dibandingkan becak kayuh lamanya. Penggunaannya juga jauh lebih ringan dan tidak membuatnya berkeringat seperti dulu. Meski demikian, kenangan tentang becak kayuh tidak pernah terlupakan oleh Heru.

“Kalau dulu saya ngayuh, capek tapi badan sehat. Sekarang enak, nggak capek. Tapi ya beda rasanya,” katanya.

Becak kayuh lamanya masih ditempatkan di rumahnya dan tidak lagi digunakan. Beberapa kali ada orang yang menawar untuk membelinya, namun Heru selalu menolak tawaran tersebut. Bagi dia, becak itu bukan sekadar alat untuk mencari nafkah, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya yang tak bisa dilupakan.

“Itu buat kenang-kenangan,” ucapnya singkat.

Hidup Heru tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya ia pulang tanpa mendapatkan uang sama sekali. Beberapa teman sekerjanya memilih untuk berkeliling mencari penumpang, tetapi Heru lebih memilih untuk tetap berada di satu tempat, menyerahkan segala sesuatunya pada rezeki yang akan datang.

“Ya gimana lagi, seikhlasnya aja,” katanya.

Di tengah kemajuan transportasi yang semakin modern, Heru Sahuri tetap konsisten menjalankan profesinya. Bagi dia, becak listrik bukan hanya sekadar kendaraan, melainkan lambang perjuangan untuk mengantar penumpang, membangun harapan, serta menjaga martabat diri di tengah berbagai keterbatasan.

Di Pasar Baru Kudus, di tengah keramaian orang yang berlalu lalang, Heru tetap ada di sana menunggu. Mungkin saja penumpang datang, mungkin juga tidak. Namun yang pasti, dia tidak pernah berhenti untuk mengharapkan yang terbaik.

(red)