KUDUS – Di sebuah rumah di Dukuh Bendo, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus yang kini diubah menjadi lapak usaha, tumpukan durian berbagai ukuran tersusun rapi. Di sanalah Toni, pelaku usaha durian, bertahan dan bangkit setelah melalui perjalanan panjang penuh liku-liku.
Berbeda dengan daerah sentra durian pada umumnya, Dukuh Bendo tidak memiliki musim durian lokal. Untuk menjaga pasokan, Toni mengimpor durian dari berbagai daerah, mulai Sumatera, Pekalongan, Wonosobo, hingga Bali. Bahkan beberapa waktu lalu, ia sempat mengambil durian dari Singaraja, Bali, untuk memenuhi permintaan pelanggan.
“Sekali datang biasanya 700 sampai 800 butir, campur berbagai ukuran. Kemarin ada sekitar 450 durian jumbo,” ujar Toni saat ditemui di lokasi usahanya.
Menurutnya, pemilihan daerah pemasok disesuaikan dengan musim panen. Ketika Sumatera terkendala distribusi akibat banjir, ia beralih ke daerah lain yang sedang panen raya. Fleksibilitas itu menjadi kunci agar usaha tetap berjalan di tengah ketidakpastian cuaca dan pasokan.
Usaha durian yang dijalani Toni bukanlah jalan mulus. Ia mulai merintis sejak 2016 dengan berjualan menggunakan motor di pinggir jalan. Pemasaran dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, bahkan lintas kota. Tuban, Bojonegoro, Rembang, Kudus, hingga Jakarta pernah menjadi lokasi penjualannya.
“Awal-awal ya muter, jualan di pinggir jalan, cari pelanggan. Online juga dicoba,” kenangnya.
Tahun 2017 menjadi titik awal usaha mulai memberikan hasil. Penjualan perlahan stabil hingga beberapa tahun berikutnya. Namun, badai kembali datang. Pada 2023 hingga 2024, usaha durian yang digeluti Toni kembali terpuruk. Faktor cuaca, gagal panen, dan kualitas buah yang menurun membuatnya sempat mengalami kebangkrutan.
“Kalau musim hujan banyak durian yang nganyep, rasanya tidak manis. Itu berat sekali,” ujarnya.
Meski demikian, kecintaannya pada durian membuat Toni tidak pernah benar-benar berhenti. Ia kembali bangkit dan mulai menata usaha di 2025. Tahun ini, stok durian kembali melimpah. Setiap hari, pasokan yang datang berkisar 500 hingga 700 butir, bahkan bisa mencapai 1.000 butir saat permintaan tinggi.
Dalam sebulan, Toni mengaku bisa menghabiskan hampir tujuh truk durian atau sekitar 20 ribu butir. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 180 ribu per buah, tergantung jenis dan ukuran. Untuk durian premium seperti bawor dan musang king, harganya berada di kelas atas.
Yang menarik, Toni menerapkan sistem garansi rasa. Durian yang tidak enak bisa diganti, sebuah strategi untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Selain menjual durian utuh, ia juga mengolah durian menjadi daging beku (frozen). Daging durian ini dipasok ke pedagang es dan pabrik roti di Semarang.
“Yang rasanya kurang, kita kirim ke pabrik. Yang manis, bisa dijual frozen,” katanya.
Bagi Toni, durian bukan sekadar komoditas, melainkan perjalanan hidup.
“Mau senang atau susah, tetap jualan durian,” ujarnya.
(red)






