Cilacap – Anak-anak panti asuhan Al Awaliyah Kampungbaru, Karangreja, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengikuti kegiatan psikoedukasi dan konseling kelompok yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa bimbingan konseling bernama Indra wardani, rezi nur fitriana, nisrina noer hasna dan renita mustowati pada Minggu, 18 Januari 2026 untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum konseling keluarga yang di ampu oleh ibu dosen Heny kristiana M. Pd. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu anak mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara sehat sebagai bekal penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dari hasil wawancara dengan salah satu pengurus Panti Asuhan Al Awaliyah Kampungbaru, Fatimah, mengungkapkan kondisi anak-anak yang diasuh memiliki latar belakang keluarga yang beragam. “Anak-anak di sini berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, ada yang yatim, ada yang piatu, ada yang yatim piatu, broken home dan dhuafa,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa hingga saat ini panti asuhan tersebut belum memiliki layanan pendampingan profesional di bidang kesehatan mental. “Di panti ini belum ada layanan psikologis,” ucap Fatimah.
Oleh karena itu, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama dilaksanakannya kegiatan psikoedukasi dan konseling kelompok ini. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi sebagian anak panti yang berasal dari keluarga dengan permasalahan kompleks, seperti kehilangan orang tua, perceraian, kemiskinan, maupun kurangnya perhatian dan dukungan emosional. Situasi tersebut membuat anak rentan mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan perasaan, seperti mudah marah, menarik diri, atau kesulitan berinteraksi sosial. Jika tidak ditangani sejak dini, kondisi ini berpotensi berdampak pada perkembangan kepribadian, prestasi belajar, serta kesehatan mental anak di masa depan.
Sasaran kegiatan adalah anak-anak panti asuhan jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Rentang usia ini merupakan fase penting dalam pembentukan konsep diri, kemampuan sosial, dan keterampilan pengelolaan emosi, sehingga intervensi psikoedukasi dan konseling kelompok dinilai sangat relevan dan mendesak.
Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu anak mengenali berbagai jenis emosi, seperti marah, sedih, takut, kecewa, dan bahagia, serta melatih mereka mengekspresikan perasaan secara sehat dan konstruktif. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan pengendalian diri dan empati terhadap orang lain. Urgensi kegiatan terletak pada upaya pencegahan masalah perilaku dan emosional sejak dini, terutama pada anak-anak dengan latar belakang keluarga yang rentan.
Proses pelaksanaan kegiatan diawali dengan ice breaking untuk menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Selanjutnya, mahasiswa bimbingan dan konseling menyampaikan materi tentang pengenalan emosi menggunakan bahasa sederhana, gambar, dan cerita yang mudah dipahami anak. Anak-anak kemudian diajak mengidentifikasi emosi melalui permainan, diskusi kelompok kecil, dan simulasi situasi sehari-hari.
Dalam sesi konseling kelompok, peserta diberikan kesempatan untuk menceritakan pengalaman pribadi terkait perasaan marah, sedih, atau kecewa. Salah satu peserta mengungkapkan pengalaman emosionalnya dengan menyatakan, “biasanya yang aku lakuin kalo marah itu diem dan narik diri dari orang lain”, ucap salah satu anak panti saat menceritakan cara yang biasa ia lakukan dalam menghadapi emosi marah. Bersama mahasiswa BK dan teman sebaya, anak-anak diajak menemukan cara mengekspresikan emosi secara positif, seperti melalui komunikasi verbal, menulis, berdoa, atau melakukan aktivitas kreatif. Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama dan pemberian pesan motivasi agar anak lebih berani mengenali serta mengelola emosinya dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman anak terhadap jenis-jenis emosi dan cara mengekspresikannya secara sehat. Anak terlihat lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaan, lebih mampu mengontrol reaksi emosional, serta menunjukkan sikap empati terhadap teman sebaya. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah terbentuknya kesehatan mental yang lebih baik, hubungan sosial yang lebih positif, serta berkurangnya risiko munculnya perilaku agresif atau menarik diri akibat tekanan emosional yang tidak tersalurkan.
Kegiatan ini juga menjadi refleksi penting atas peran konselor keluarga di masyarakat. Konselor tidak hanya berperan sebagai penolong saat masalah muncul, tetapi juga sebagai pendidik dan pendamping dalam membangun ketahanan emosional anak dan keluarga. Melalui pendekatan psikoedukasi dan konseling kelompok, konselor dapat berkontribusi nyata dalam menciptakan generasi yang lebih sehat secara mental, mandiri, dan berdaya.
(red)






