Wawasan Nusantara di Persimpangan Zaman: Menjawab Disintegrasi Bangsa di Tengah Krisis Identitas Global

Uncategorized22 Dilihat

Media sosial memiliki peran besar dalam situasi ini. Informasi menyebar dengan sangat cepat, tetapi tidak selalu disertai dengan tanggung jawab. Berita bohong, potongan informasi, dan opini provokatif mudah sekali mempengaruhi emosi masyarakat. Banyak orang lebih suka membagikan informasi yang sesuai dengan pandangannya, tanpa peduli apakah itu benar atau tidak. Akibatnya, ruang diskusi menjadi sempit dan penuh kecurigaan. Kita lebih sibuk membela kelompok sendiri daripada mencari titik temu sebagai bangsa.

Dalam kondisi seperti ini, Wawasan Nusantara seharusnya menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas perbedaan. Sayangnya, konsep ini sering diajarkan dengan cara yang kaku. Di sekolah atau kampus, Wawasan Nusantara lebih banyak dihafalkan daripada dipahami. Mahasiswa tahu definisinya, tetapi tidak selalu mengerti bagaimana konsep itu berkaitan dengan masalah nyata, seperti kesenjangan ekonomi, konflik sosial, atau ketidakadilan yang masih terjadi di banyak daerah.

Ketimpangan pembangunan menjadi salah satu masalah yang tidak bisa diabaikan. Tidak semua wilayah merasakan hasil pembangunan secara merata. Ada daerah yang maju pesat, tetapi ada juga yang tertinggal jauh. Ketika kondisi ini terus dibiarkan, wajar jika muncul rasa kecewa dan ketidakpercayaan terhadap negara. Dalam situasi seperti itu, ajakan untuk menjaga persatuan sering terdengar kosong. Persatuan tidak cukup disampaikan lewat slogan, tetapi harus dibuktikan melalui kebijakan yang adil dan berpihak pada seluruh rakyat.

Di sisi lain, kita juga menghadapi krisis identitas global. Dunia sekarang semakin terbuka. Anak muda Indonesia tumbuh dengan budaya global yang mudah diakses melalui internet. Mereka menonton film luar negeri, mendengarkan musik internasional, dan berinteraksi dengan orang dari berbagai negara. Identitas mereka menjadi lebih cair dan tidak lagi sepenuhnya terikat pada batas negara. Hal ini sering dianggap sebagai ancaman bagi nasionalisme.

Padahal, keterbukaan terhadap dunia luar tidak selalu berarti kehilangan jati diri. Masalahnya bukan pada budaya global itu sendiri, melainkan pada lemahnya upaya kita membangun identitas kebangsaan yang relevan dengan zaman. Jika nasionalisme hanya dipahami sebagai sikap menolak pengaruh asing, maka wajar jika generasi muda merasa tidak tertarik. Mereka hidup di dunia yang terbuka, sementara nasionalisme yang ditawarkan terasa sempit dan penuh larangan.

Wawasan Nusantara seharusnya bisa menjawab tantangan ini. Ia tidak perlu dipahami sebagai konsep yang menutup diri dari dunia luar. Sebaliknya, Wawasan Nusantara bisa menjadi cara berpikir yang membantu masyarakat Indonesia tetap memiliki identitas, tanpa harus menolak perubahan. Menjadi bagian dari dunia global tidak berarti berhenti menjadi orang Indonesia. Keduanya bisa berjalan bersamaan, asalkan kita memiliki pegangan nilai yang jelas.

Di sisi lain, kita juga menghadapi krisis identitas global. Dunia sekarang semakin terbuka. Anak muda Indonesia tumbuh dengan budaya global yang mudah diakses melalui internet. Mereka menonton film luar negeri, mendengarkan musik internasional, dan berinteraksi dengan orang dari berbagai negara. Identitas mereka menjadi lebih cair dan tidak lagi sepenuhnya terikat pada batas negara. Hal ini sering dianggap sebagai ancaman bagi nasionalisme.

Padahal, keterbukaan terhadap dunia luar tidak selalu berarti kehilangan jati diri. Masalahnya bukan pada budaya global itu sendiri, melainkan pada lemahnya upaya kita membangun identitas kebangsaan yang relevan dengan zaman. Jika nasionalisme hanya dipahami sebagai sikap menolak pengaruh asing, maka wajar jika generasi muda merasa tidak tertarik. Mereka hidup di dunia yang terbuka, sementara nasionalisme yang ditawarkan terasa sempit dan penuh larangan.

Wawasan Nusantara seharusnya bisa menjawab tantangan ini. Ia tidak perlu dipahami sebagai konsep yang menutup diri dari dunia luar. Sebaliknya, Wawasan Nusantara bisa menjadi cara berpikir yang membantu masyarakat Indonesia tetap memiliki identitas, tanpa harus menolak perubahan. Menjadi bagian dari dunia global tidak berarti berhenti menjadi orang Indonesia. Keduanya bisa berjalan bersamaan, asalkan kita memiliki pegangan nilai yang jelas.

Karya : Muhammad Faisal, HMI Badko Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *