Wayang Klithik Wonosoco: Kisah Lokal yang Berbeda dengan Wayang Kulit pada Umumnya

Kudus85 Dilihat

KUDUS – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Wayang Klithik Wonosoco kini berada di persimpangan sejarah. Seni pedalangan berbahan kayu yang tumbuh dan hidup selama ratusan tahun di Desa Wonosoco, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, hanya menyisakan satu dalang aktif, yaitu Ki Sutikno, generasi kedelapan pewaris yang hingga kini masih setia menjaga tradisi leluhur.

Wayang Klithik Wonosoco bukan sekadar bentuk hiburan rakyat. Ia merupakan medium penyampai babad sejarah Jawa, yang merekam asal-usul desa, konflik kekuasaan lokal, hingga relasi manusia dengan alam dan spiritualitas. Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya yang mengacu pada epos Mahabharata dan Ramayana, Wayang Klithik Wonosoco bertumpu pada kisah-kisah lokal yang diwariskan secara lisan lintas generasi.

 

Namun, perubahan sosial dan minimnya regenerasi membuat keberlangsungan seni ini kian rapuh. Praktik pedalangan yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual desa, kini hanya muncul pada momen tertentu seperti sedekah bumi atau merti sumber. Tanpa upaya serius, seni tradisi ini berpotensi berhenti sebagai artefak budaya tanpa kehidupan.

Kondisi tersebut mendorong penggiat budaya asal Kudus, Bustomy Rifa Aljauhari, menggagas program bertajuk Sang Dalang Terakhir. Program ini dirancang sebagai langkah penyelamatan melalui dokumentasi film, penguatan ruang pertunjukan, serta kegiatan edukatif yang melibatkan masyarakat dan komunitas seni.

Bustomy menegaskan bahwa Wayang Klithik tidak bisa diperlakukan semata sebagai objek arsip atau bahan penelitian.

“Wayang Klithik adalah praktik budaya hidup. Di dalamnya tersimpan pengetahuan tentang sejarah lokal, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai spiritual masyarakat Jawa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Wayang Klithik Wonosoco memiliki keterkaitan erat dengan ritual merti sumber yang selama ini dijalankan warga desa. Ritual tersebut tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas keberadaan mata air, tetapi juga penanda relasi harmonis antara manusia dan lingkungan di kawasan Pegunungan Kendeng Utara.

“Dalam konteks ini, wayang berfungsi sebagai medium doa, pengingat sejarah, sekaligus sarana pendidikan moral,” katanya.

Program Sang Dalang Terakhir melibatkan berbagai penggiat seni dan komunitas budaya di Kabupaten Kudus. Tujuannya bukan hanya meningkatkan kesadaran publik, tetapi juga membuka ruang regenerasi bagi seni tradisi ini.

“Harapan saya melalui dokumentasi dan pertunjukan yang dikemas relevan dengan zaman, generasi muda dapat kembali menaruh minat pada seni tradisi ini,” katanya.

Dukungan terhadap program tersebut datang dari negara melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui Program Dana Indonesiana, pemerintah memberikan dukungan pendanaan sebagai bentuk komitmen menjaga tradisi budaya yang terancam putus regenerasinya.

“Kehadiran masyarakat menjadi penting sebagai penanda bahwa Wayang Klithik masih memiliki ruang hidup di tengah perubahan sosial,” katanya.

Ia menilai, pertunjukan publik menjadi cara efektif untuk mengembalikan wayang ke ruang sosialnya, bukan sekadar disimpan sebagai peninggalan masa lalu.

Sementara itu, Ki Sutikno mengungkapkan kegelisahannya terhadap masa depan Wayang Klithik. Menurutnya, ancaman terbesar bukan hanya pada minimnya dalang penerus, tetapi juga pada hilangnya makna wayang sebagai suara leluhur desa.

“Wayang Klithik bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya ada doa, nilai, dan sejarah desa. Jika tidak diwariskan, semua itu bisa hilang,” tuturnya.

Sedangkan, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kudus, Jatmiko Muhardi Setyanto menyebut Wayang Klithik sebagai kekayaan budaya khas Kudus yang selama ini hanya dikenal secara lokal. Dia juga menyadari pentingnya pelestarian Wayang Klithik Wonosoco.

“Harapannya, Wayang Klithik bisa dikenal lebih luas dan tidak berhenti pada satu generasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, peran pemerintah tidak hanya sebatas fasilitasi kegiatan, tetapi juga mendorong pemanfaatan teknologi dan ruang-ruang publik agar Wayang Klithik tetap relevan. Bagi masyarakat Wonosoco, upaya ini menjadi ikhtiar menjaga babad sejarah agar tetap hidup, bergerak, dan terus diceritakan dari balik kelir wayang kayu.

Puncak rangkaian berupa pertunjukan Wayang Klithik Wonosoco pada Sabtu (10/1/2026) pukul 19.00 WIB, di Taman Padang Mbulan Wates, Undaan, Kudus. Pementasan tersebut menghadirkan lakon baru yang tetap berpijak pada babad sejarah, namun dirancang sebagai dialog antara tradisi dan realitas sosial masa kini.

(red)