Wayang Klithik Wonosoco, Hanya Tersisa Satu Dalang Aktif – Dijadikan Objek Penyelamatan Lewat Program ‘Sang Dalang Terakhir’

Kudus747 Dilihat

KUDUS – Wayang Klithik Wonosoco, salah satu seni tradisi tertua di Jawa Tengah, kini menghadapi kondisi kritis. Seni pedalangan berbahan kayu yang telah hidup dalam ritual desa selama ratusan tahun hanya menyisakan satu dalang aktif, Ki Sutikno, generasi kedelapan dalang di Desa Wonosoco, Kabupaten Kudus.

Kondisi ini melatarbelakangi lahirnya program budaya Sang Dalang Terakhir, upaya penyelamatan melalui dokumentasi film, pertunjukan publik, dan kegiatan edukatif.

Program ini mendapatkan dukungan Dana Indonesiana melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai bentuk perhatian negara terhadap tradisi yang terancam putus regenerasi.

Penggagas program, Bustomy Rifa Aljauhari, menekankan bahwa Wayang Klithik tidak boleh hanya diperlakukan sebagai objek penelitian atau arsip masa lalu.

Menurutnya, seni ini merupakan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan tentang relasi manusia dengan alam dan spiritualitas Jawa.

“Wayang Klithik Wonosoco memiliki keterkaitan erat dengan ritual merti sumber dan sejarah pelestarian mata air di kawasan Pegunungan Kendeng Utara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lakon Wayang Klithik Wonosoco tidak bersumber dari epos India seperti Mahabharata dan Ramayana, melainkan dari babad tanah Jawa.

Kisah-kisah itu sarat dengan konflik kekuasaan, sejarah lokal, dan pesan moral yang tetap relevan saat ini.

Puncak program dijadwalkan berupa pementasan pada 10 Januari 2026 di Wates, Desa Wonosoco, dengan lakon baru yang dirancang sebagai dialog antara tradisi dan zaman.

“Kehadiran masyarakat diharapkan menjadi penanda bahwa Wayang Klithik masih memiliki ruang di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung,” bebernya.

Sementara itu, Ki Sutikno mengungkapkan kekhawatiran tidak hanya terkait minimnya regenerasi dalang, tetapi juga hilangnya makna Wayang Klithik sebagai suara leluhur desa. Tanpa keberlanjutan praktik, seni ini berpotensi menjadi artefak museum tanpa kehidupan.

“Wayang Klithik bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya ada doa, nilai, dan sejarah desa. Jika tidak diwariskan, semua itu bisa hilang,” ungkapnya.

Dukungan juga datang dari Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, yang menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pelestarian, termasuk mendorong generasi penerus sebagai dalang maupun dokumentator.

Ia juga menekankan pentingnya penyediaan ruang penyimpanan yang layak untuk wayang klithik asli berusia ratusan tahun sebagai bagian dari warisan budaya Kudus.

(red)