DEMAK – Warga Perumahan Tlogo Baru Asri, Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, dikejutkan dengan penemuan jasad seorang bocah perempuan yang meninggal dunia akibat gantung diri di rumahnya pada Kamis (12/2) sore.
Pihak kepolisian telah memastikan bahwa peristiwa tragis ini murni akibat bunuh diri dan tidak ada unsur pidana lain yang terlibat.
Sebelum kejadian naas ini, korban diketahui sempat mengunggah sebuah tangkapan layar percakapan pesan melalui WhatsApp yang menunjukkan nada emosi, diduga kuat berasal dari ibunya.
Unggahan tersebut dibagikan beberapa hari sebelum kejadian, disertai dengan tulisan yang menyiratkan beban emosional: “Di balik tawa gua, disisi lain aku juga cape.”
Plt. Kasi Humas Polres Demak, Iptu Said Nu’man Murod, menyatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyelidikan yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian, tidak ditemukan adanya indikasi tindak pidana dalam kasus ini.
“Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara, pemeriksaan saksi-saksi, serta hasil pemeriksaan medis, peristiwa ini dinyatakan murni gantung diri dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain,” kata Nu’man, pada Sabtu (14/2/2026) di Mapolres Demak.
Korban diduga mengakhiri hidupnya dengan menggunakan sehelai selendang berwarna lurik yang diikatkan pada besi tempat latihan pull up yang berada di dalam rumahnya.
Rekaman dari kamera pengawas (CCTV) menunjukkan bahwa ibu korban tiba di rumah sekitar pukul 18.01 WIB dengan mengendarai mobil, lalu masuk ke dalam rumah sambil menggendong adik korban.
Tidak lama berselang, ibu korban keluar rumah sambil berteriak meminta pertolongan setelah menemukan anaknya dalam kondisi sudah tergantung.
Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Wongso Negoro (RSWN) Kota Semarang dengan harapan bisa mendapatkan penanganan medis. Namun, setibanya di rumah sakit, nyawa korban sudah tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia.
Nu’man mengimbau kepada seluruh orang tua untuk lebih meningkatkan perhatian terhadap kondisi emosional dan psikologis anak-anak. Ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka dan jujur di dalam lingkungan keluarga.
Selain itu, ia meminta masyarakat untuk tidak membuat spekulasi yang tidak berdasar dan menghormati privasi serta duka mendalam yang dialami oleh keluarga korban.
“Kami mengajak para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera mencari bantuan jika menemukan tanda-tanda gangguan psikologis. Jangan ragu berkonsultasi dengan pihak sekolah, tokoh masyarakat, maupun tenaga profesional. Mari kita jaga bersama lingkungan yang aman dan suportif bagi anak-anak kita,” pungkasnya.
(red)
