Tag: Politik

  • Perisai Demokrasi Bangsa Tuntut Anggota DPR RI Pembuat Gaduh Dipecat, Bukan Hanya Dinonaktifkan !

    Perisai Demokrasi Bangsa Tuntut Anggota DPR RI Pembuat Gaduh Dipecat, Bukan Hanya Dinonaktifkan !

    Jakarta, 31 Agustus 2025 – Perisai Demokrasi Bangsa (PDB) mengecam keras tindakan sejumlah anggota DPR RI yang dinilai telah membuat gaduh dan menciderai kepercayaan publik. Ketua Umum PDB, Muhammad Rikza Hasballa, menyatakan bahwa penonaktifan sementara yang diberikan oleh partai politik terkait tidaklah cukup.

    Pernyataan ini merespons pemberitaan terkait penonaktifan Eko Patrio dan Uya Kuya dari keanggotaan DPR RI oleh DPP PAN, serta penonaktifan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Fraksi NasDem oleh DPP Partai NasDem (berdasarkan surat siaran pers yang dikeluarkan, 31 Agustus 2025). PDB menilai bahwa tindakan anggota dewan yang menimbulkan kontroversi, seperti yang terjadi baru-baru ini, telah memperburuk citra lembaga legislatif di mata masyarakat.

    “Status nonaktif itu tidak cukup! Penonaktifan hanya bersifat sementara dan membuka peluang bagi mereka untuk kembali aktif di kemudian hari. Ini tidak memberikan efek jera dan tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat,” tegas Muhammad Rikza Hasballa.

    Lebih lanjut, Ketua Umum PDB tersebut menyatakan: “Kami dari Perisai Demokrasi Bangsa menuntut agar anggota DPR RI yang terbukti melakukan tindakan yang memicu kegaduhan dan merugikan kepentingan rakyat dipecat secara permanen dari jabatannya. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban mereka kepada masyarakat yang telah memilih mereka.”

    PDB mendesak Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap anggota-anggota dewan yang melanggar kode etik dan norma-norma yang berlaku. PDB juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mengawasi kinerja DPR RI dan menyuarakan aspirasi agar lembaga legislatif dapat bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel.

  • Ketika Para Seniman Masuk Dalam Panggung Politik 

    Ketika Para Seniman Masuk Dalam Panggung Politik 

    TUTURMEDIA.COM – Perubahan, kekal dan seringkali menuai kontroversi. Namun tanpa perubahan, manusia sepertinya tidak akan berkembang dan tetap berjalan mengikuti jejak-jejak mati. Bukannya tak mungkin umat manusia nantinya hanya berkutat pada hari yang begitu-begitu saja dengan hal yang sama terus-menerus.

    Dari sebagian anggapan seniman yang memasuki kawasan politik adalah hal yang tidak sepantasnya, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tidak mendapat celah sedikitpun untuk menjadi bagian partai politik. Sah-sah saja seorang seniman masuk kedalam ranah politik, pasalnya seniman memang sangat dekat dengan politik.

    Setiap insan memerlukan perubahan dalam hidupnya, bahkan yang paling kreatif sekalipun. Di dunia ini, sebut saja orang-orang kreatif itu sebagai seniman. Biasanya, apa yang dilakukan para seniman itu luar biasa. Menggaet banyak ‘pengikut’ melalui karya-karyanya yang hampir semuanya spektakuler. Selalu saja ada hal baru yang dibuat oleh mereka dan menjadi tontonan orang banyak. Selain berperan sebagai tokoh, seniman juga acapkali disebut-sebut sebagai pengamat sosial yang mengkritik kejadian-kejadian tak normal di sekitarnya dengan membuat sebuah atau beberapa karya yang memengaruhi orang-orang untuk ikut melihat dan menilai keadaan. Hebatnya lagi, para pakar kreatif ini selalu menghasilkan karya yang bersifat membela rakyat dan atau menyadarkan banyak orang untuk selalu berpikir jernih.

    Banyak cara yang diusahakan para seniman untuk memperjuangkan teriakannya agar setidaknya didengar dan direalisasikan, namun seringkali gagal dan hanya ditanggapi sebatas angin lalu. Saban hari, karya saja tidak cukup. Saban tahun, perubahan pun muncul. Merasa bosan karyanya kurang diperhatikan, maka kini seniman pun memulai aksinya ke tingkat yang lebih tinggi. Dari yang sebagai seniman asal rakyat biasa, menuju seniman berwujud pejabat pemegang kekuasaan. Mungkin terdengar sedikit menyeramkan. Pemegang kekuasaan. Dua kata tersebut selama ini mendefinisikan kehidupan politik Indonesia yang kotor.

    Siapapun yang menjalaninya akan menjadi kotor. Kotor dalam artian banyak hal tentunya, dan kata orang, sudah pasti tidak baik. Imajinasi semu seperti itulah yang kerap diterima masyarakat sehingga muncul paradigma bahwa lebih baik tidak berurusan dengan hal-hal yang berbau politik. Namun jika tidak ada yang mau berurusan dengan politik, negara Indonesia hanya akan berjalan di tempat. Maka, mereka yang berkemampuan dan berani menanggung harapan orang banyaklah yang harus maju mengisi kursi-kursi kosong di atas, tidak terkecuali para seniman.

    Sudah hal yang biasa pada zaman modern ini, seniman menginjakkan kakinya pada panggung politik. Dari yang selama ini hanya berjalan di tanah kehidupan, mengaiskepercayaan orang dari sebuah karya, kini memberanikan diri menyodorkan harapan besar untuk orang banyak melalui tingkatan yang lebih tinggi yang entah itu tanpa melupakan identitasnya sebagai seniman atau sebaliknya. Trend seniman menjadi bagian dari partai politik ini jelas menuai banyak pendapat, kritik, dan kontroversi. Masih banyak yang berseru; para seniman tidak cocok berada dalam kawasan politik karena hanya bersifat semu. Banyak partai yang meminang seniman layaknya artis top untuk menggaet popularitas dan meningkatkan elektoral partainya.

    Sah saja kalau mampu, kalau tidak, hanya akan jadi badut politik. Ada juga kabar burung yang mengatakan seniman yang berpolitik sudah bukan seorang seniman yang berkualitas lagi karena akan susah menggunakan jiwa seni nya dalam berpolitik. Bayangkan, dari awalnya ingin membela rakyat dengan membangkitkan rasa berbudaya dan kesenian, ujung-ujungnya jadi capek sendiri dan kalah dalam persaingan antar individu saat berpolitik.

    Penulis: Lalik Kongkar, Pemerhati Sosial Minat Kajian Politik Sastra dan Filsafat