Tag: Lestari moerdijat

  • Nonton Bareng Film, Cara Kreatif Lestari Moerdijat Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di Kudus

    Nonton Bareng Film, Cara Kreatif Lestari Moerdijat Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di Kudus

    KUDUS – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat memperkenalkan cara baru dan segar dalam menyebarkan pemahaman mengenai Empat Pilar kebangsaan.

    Kali ini, ia memilih media film sebagai alat penyampaian, dengan menggelar kegiatan nonton bareng Teman Tegar Maira di NSC Kudus, Kamis (30/4) sore, yang khusus ditujukan bagi generasi muda.

    Dikenal akrab dengan panggilan Rerie, ia berpendapat bahwa karya seni seperti film menjadi sarana yang tepat dan efektif untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kebangsaan. Melalui pendekatan yang dikemas dalam bentuk hiburan, materi yang selama ini sering disampaikan dengan metode formal dan kaku, dapat terserap dengan lebih mudah, santai, dan menyentuh hati para penonton.

    “Penyampaian sosialisasi bisa dalam berbagai bentuk, bukan hanya ceramah. Bisa lewat tayangan, kegiatan interaktif, dan hari ini melalui film,” ujarnya sesaat sebelum pemutaran dimulai.

    Ia menjelaskan, isi cerita dalam film tersebut mengandung pesan-pesan yang selaras dengan kandungan Empat Pilar, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai seperti rasa cinta terhadap alam, upaya pelestarian lingkungan, serta semangat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, menjadi bagian dari alur cerita yang dinilai sangat relevan dengan tantangan dan kondisi zaman sekarang.

    Film Teman Tegar Maira bercerita tentang persahabatan yang terjalin erat antara Tegar, seorang anak dari kota besar yang hidup dengan keterbatasan fisik, dan Maira, gadis asli Papua yang kesehariannya bersentuhan langsung dengan kekayaan alam. Di dalamnya tergambar berbagai dinamika, mulai dari perbedaan budaya dan adat istiadat, perjuangan warga melindungi hutan dari alih fungsi lahan, hingga menampilkan keindahan serta potensi alam yang dimiliki Tanah Papua.

    Bagi Rerie, kisah tersebut mengandung pesan edukatif yang kuat, terutama mengenai pentingnya sikap saling menghargai, hidup berdampingan dalam perbedaan, serta tanggung jawab menjaga lingkungan. Ia juga menyoroti karakter Tegar yang menjadi simbol bahwa setiap individu memiliki hak dan kesempatan yang sama, sekaligus menggambarkan semangat juang dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi keterbatasan.

    “Biasanya anak muda kalau hanya dikumpulkan lalu diberi materi akan berbeda responsnya. Lewat film seperti ini, dengan pengantar singkat, mudah-mudahan pesannya sampai,” katanya.

    Dalam kesempatan yang sama, Rerie juga menghubungkan pesan yang terkandung dalam film dengan kondisi yang ada di kawasan Pegunungan Muria dan sekitarnya. Ia mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup di daerah masing-masing.

    Menurutnya, upaya pelestarian ini tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan memerlukan partisipasi aktif dari semua pihak, baik warga masyarakat, pemerintah desa, maupun pelaku dunia usaha.

    Ia menegaskan bahwa kemajuan pembangunan daerah dapat terus berjalan, tanpa harus mengorbankan keseimbangan alam dan keamanan serta kenyamanan hidup masyarakat.

    (red)

  • Sosialisasi di Gedung DPRD Kudus, Lestari Moerdijat Berbicara Tentang Krisis Multidimensi

    Sosialisasi di Gedung DPRD Kudus, Lestari Moerdijat Berbicara Tentang Krisis Multidimensi

    KUDUS – Waketum MPR RI Lestari Moerdijat (yang akrab disapa Rerie) menekankan bahwa kebhinekaan adalah modal sosial terbesar bangsa Indonesia untuk menghadapi krisis multidimensi. Pesan ini disampaikannya saat memberikan sosialisasi Empat Pilar MPR RI secara virtual kepada ratusan anggota Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK).

    Acara yang berlangsung di Gedung Pertemuan DPRD Kabupaten Kudus pada Minggu (7/12/2025) menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali nilai-nilai kebangsaan di tengah tantangan yang datang dari dalam dan luar negeri.

    Dalam pidatonya, ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis yang meliputi berbagai aspek. Faktor internal seperti menurunnya penghargaan terhadap kemajemukan dan pemahaman agama yang sempit, serta faktor eksternal berupa globalisasi dan persaingan antar bangsa, adalah tantangan yang nyata.

    “Mau atau tidak mau, sadar atau tidak sadar, kita harus menyadari bahwa saat ini kita berhadapan dengan krisis multidimensi. Isu SARA, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama jika terus didiamkan akan membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara,” ujar dia.

    Oleh karena itu, ia menegaskan perlunya membangun National Character Building melalui empat konsensus kebangsaan: Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Secara khusus, ia menyoroti pilar Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar yang menyatukan bangsa di tengah keragaman geografis dan demografis yang luar biasa.

    “Kita memiliki lebih dari 13.700 pulau, ratusan suku bangsa, dan keragaman budaya. Letak geografis dan bentang alam yang berbeda ini sesungguhnya bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang memperkaya kebinekaan kita,” tegasnya.

    Politisi Partai NasDem ini menjelaskan bahwa keberagaman harus dipandang sebagai modal untuk membangun bangsa yang maju dan sejahtera. Ia memperingatkan bahwa jika keberagaman tidak dikelola dengan baik dalam bingkai persatuan, hal itu akan menimbulkan konflik dan perpecahan.

    “Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi pada hakikatnya satu. Kesatuan adalah upaya untuk mempersatukan perbedaan suku, adat istiadat, ras, dan agama untuk menjadi satu yaitu bangsa Indonesia,” tambahnya.

    Menutup pidatonya, Lestari mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk teman-teman disabilitas di Kudus, untuk terus menjaga persatuan dalam mengisi kemerdekaan demi mencapai keadilan sosial.

    “Mempertahankan persatuan dan kesatuan adalah sebuah keniscayaan. Berbeda-beda dan bersatu mengisi perjuangan adalah mandat yang diberikan para founding fathers kepada kita sebagai penerus bangsa,” pungkasnya.

    (red)

  • Penguatan Program BIPA sebagai Instrumen Diplomasi Lunak Indonesia Terus Didorong

    Penguatan Program BIPA sebagai Instrumen Diplomasi Lunak Indonesia Terus Didorong

    KUDUS — Penguatan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) terus didorong sebagai instrumen strategis diplomasi lunak Indonesia. Upaya tersebut mengemuka dalam diseminasi program diplomasi kebahasaan dan kesastraan yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, di Hotel Griptha Kudus, Rabu (26/11).

    Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa, Iwa Lukmana, menegaskan bahwa fokus kegiatan kebahasaan tahun ini diarahkan pada penguatan diplomasi bahasa dan sastra, termasuk pengembangan BIPA dan bidang penerjemahan.

    “Program ini adalah bagian dari pertanggungjawaban publik atas penggunaan anggaran negara, sekaligus investasi jangka panjang bagi diplomasi budaya Indonesia,” ujarnya.

    Iwa menambahkan bahwa pelaksanaan BIPA dilakukan secara kolaboratif dengan pengajar, penyelenggara program di dalam dan luar negeri, serta jaringan penerjemah.

    “Transparansi dan dukungan publik dinilai penting agar dampak program semakin luas dan berkelanjutan,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Iwa menyoroti keterlibatan generasi muda yang menunjukkan tren positif, dengan meningkatnya mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas kebahasaan hingga menghasilkan karya tulis dan buku.

    Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, menilai perluasan jejaring BIPA akan memperbesar daya jangkau diplomasi bahasa Indonesia, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik.

    “Keberadaan mahasiswa asing yang belajar bahasa Indonesia di berbagai daerah menjadi indikator meningkatnya kebutuhan akan BIPA,” katanya.

    Lestari juga menekankan pentingnya menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa akademik yang berwibawa.

    “Penguatan BIPA diharapkan berjalan beriringan dengan pelestarian bahasa daerah di dalam negeri,” pungkasnya.

    (red)

  • Lestari Moerdijat: Mahasiswa Garda Depan dalam Menciptakan Kampus Aman

    Lestari Moerdijat: Mahasiswa Garda Depan dalam Menciptakan Kampus Aman

    KUDUS – Komisi X DPR RI menyoroti serius upaya menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, bebas dari kekerasan, dan mendukung kesejahteraan mahasiswa. Penegasan ini disampaikan dalam acara Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi yang berlangsung di sebuah kampus di Kudus, Rabu (26/11).

    Lestari Moerdijat, Anggota Komisi X DPR RI sekaligus Wakil Ketua MPR RI, menyatakan bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menyiapkan berbagai regulasi untuk memperkuat perlindungan di lingkungan perguruan tinggi. Langkah-langkah ini meliputi pembentukan satuan tugas (satgas) hingga penerbitan aturan turunan di tingkat universitas.

    “Saya gembira karena satgas sudah terbentuk, peraturan bahkan sudah diturunkan sampai pada peraturan rektor. Jadi permennya sudah memiliki turunan dan pelaksanaannya. Insyaallah bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.

    Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai garda terdepan dalam pencegahan kekerasan. Menurutnya, kampus yang aman hanya dapat terwujud jika seluruh elemen memahami pentingnya perlindungan dan mengambil peran aktif.

    “Kehadiran mahasiswa menjadi audiens utama agar mereka memahami betul perannya. Menciptakan kampus aman tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak,” tambahnya.

    Lestari juga menyoroti kompleksitas masalah kekerasan yang seringkali terkait dengan masalah kesehatan mental. Data menunjukkan bahwa satu dari tiga anak muda mengalami gangguan kesehatan mental.

    “Masalah ini sangat kompleks. Kekerasan yang muncul bisa jadi merupakan puncak gunung es dari persoalan yang dialami pelaku sebelumnya. Penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi perlu intervensi yang menyeluruh,” jelasnya.

    Sementara itu, Wakil Rektor III, Prof. Sugeng Slamet, mengungkapkan bahwa kampusnya telah menangani tiga kasus sepanjang tahun ini. Kasus-kasus tersebut meliputi mahasiswa yang terjerat pinjaman online, ancaman dari pacar yang membuat mahasiswa tidak nyaman, dan bullying terhadap mahasiswa berprestasi yang kurang bersosialisasi.

    “Untuk kekerasan seksual, korban sering malu. Maka kami libatkan mahasiswa sebagai perantara. Lingkungan kampus harus memberi rasa aman,” pungkas Prof. Sugeng, menekankan pentingnya peran konselor teman sebaya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman.

    (red)

  • Lestari Moerdijat Diganjar Penghargaan Tokoh Pemberi Beasiswa KIP Terbanyak

    Lestari Moerdijat Diganjar Penghargaan Tokoh Pemberi Beasiswa KIP Terbanyak

    KUDUS – Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, peran mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dinilai kian penting.

    Hal itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kampus Universitas Muria Kudus (UMK), Jawa Tengah, Sabtu (14/6).

    Menariknya, dalam kesempatan tersebut, Lestari Moerdijat juga menerima piagam penghargaan dari Rektorat UMK sebagai Tokoh Pemberi Beasiswa KIP Terbanyak kepada mahasiswa UMK.

    Piagam diberikan langsung oleh Rektor UMK, Darsono, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Lestari yang selama ini konsisten memperjuangkan akses pendidikan bagi mahasiswa kurang mampu.

    “Ini rumah dan garda penjaga Pancasila. Saya yakin anak-anak muda kita mampu membawa bangsa ini menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045.” paparnya.

    Lebih lanjut, kata dia, tantangan baru seperti pengaruh budaya asing di era digital harus kita waspadai bersama.

    Menurutnya, di era digitalisasi, mahasiswa dituntut tidak hanya cakap teknologi, namun juga harus memiliki pondasi nilai kebangsaan yang kuat.

    Ia menyoroti bagaimana masifnya pengaruh media sosial yang jika tak disikapi bijak, berpotensi memecah persatuan dan memprovokasi generasi muda.

    “Kami mendorong adanya edukasi berkelanjutan di kampus-kampus, agar mahasiswa memahami betapa pentingnya Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai fondasi bangsa,” tegasnya.

    Sementara itu, Rektor UMK Darsono menyampaikan terima kasih atas kontribusi nyata Lestari Moerdijat dalam mendorong kemajuan pendidikan di Kudus.

    “Dengan adanya beasiswa KIP ini, banyak mahasiswa kami terbantu secara finansial, sehingga bisa fokus menimba ilmu tanpa terbebani biaya,” jelasnya.

    (red)

  • Lestari Moerdijat Dorong Pelestarian Situs Patiayam: Jejak Peradaban Purba di Kudus yang Harus Diungkap Dunia

    Lestari Moerdijat Dorong Pelestarian Situs Patiayam: Jejak Peradaban Purba di Kudus yang Harus Diungkap Dunia

    KUDUS — Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan pentingnya pelestarian Situs Patiayam di Kudus sebagai bagian dari upaya mengungkap jejak peradaban purba Indonesia.

    Hal itu ia sampaikan saat menghadiri forum diskusi berbangsa dan bernegara bertajuk Melestarikan Cagar Budaya, Memperkokoh Kekayaan Bangsayang digelar di aula Balai Desa Terban, Jekulo, Kudus, Jumat (13/6) malam.

    Dalam forum tersebut, Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Universitas Indonesia (UI) yang terus berperan aktif dalam penggalian situs arkeologi Patiayam.

    “Hari ini saya berterima kasih kepada Universitas Indonesia. Setahun lalu, bersama CPAS dan para relawan, kita memulai penggalian di wilayah Patiayam, Desa Terban, Jekulo, Kudus.” ujarnya

    Lebih lanjut, saat itu ditemukan fosil tukang elephas atau gajah purba, yang baru sebagian berhasil dibuka.

    “Kini, penggalian dilanjutkan sekaligus dimanfaatkan untuk kuliah lapangan mahasiswa arkeologi UI,” paparnya.

    Menurut Lestari, kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan ilmiah, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat Kudus mengenai potensi kekayaan sejarah yang dimiliki daerah mereka.

    “Situs Patiayam menyimpan jejak peradaban purba yang luar biasa. Ini warisan yang harus kita ungkap dan lestarikan, agar dunia mengetahui kekayaan yang kita miliki,” tegasnya.

    Lestari berharap, melalui sinergi lintas lembaga, penelitian di Patiayam dapat berlanjut dan menjadi destinasi edukasi, riset, sekaligus wisata budaya yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

    Sebanyak 70 mahasiswa Arkeologi UI, didampingi dosen dan para senior, terlibat dalam kuliah kerja lapangan (KKL) di situs tersebut.

    Salah satu mahasiswa, Vivi Luthfina, menjelaskan bahwa praktik lapangan di Patiayam menjadi bagian dari kurikulum kampus mereka.

    “Setiap angkatan menjalani praktik lapangan di sini. Tahun ini kami fokus meneliti tulang-tulang elephas untuk memastikan data temuan. Hari ini sudah mulai penggalian split 1 dan kegiatan berlangsung setiap hari,” tukasnya.

    (red)