Ojek Wisata Colo Harapkan Akses Segera Normal untuk Pulihkan Ekonomi

Kudus40 Dilihat

KUDUS — Longsor pada jembatan yang berada di jalur barat menuju kawasan wisata Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, memberikan dampak yang luas bagi aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Sektor yang paling terpengaruh adalah para pengemudi ojek wisata di Colo, yang mengalami penurunan pendapatan yang signifikan sejak akses utama ke kawasan tersebut terganggu.

Meskipun akses menuju kawasan wisata religi Makam Sunan Muria masih bisa ditempuh melalui jalur timur, penurunan jumlah kunjungan wisatawan tidak dapat dihindari.

Abdurrahman, anggota Paguyuban Ojek Colo, menyatakan bahwa kejadian longsor pada jembatan tersebut membuat aliran pengunjung yang datang dari arah barat Kudus terhenti sepenuhnya. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu pintu masuk utama bagi para peziarah.

“Dampaknya terasa sekali. Biasanya jalur barat cukup ramai, sekarang sama sekali tidak bisa dilewati. Otomatis wisatawan berkurang dan pendapatan kami ikut turun,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa jalur timur seperti rute Colo–Kudus dan Pati–Colo masih aman untuk dilalui. Kendaraan roda dua serta mobil kecil masih dapat mencapai kawasan Colo dengan beberapa pengaturan tertentu.

Namun demikian, bus pariwisata berukuran besar belum dapat melintas karena kondisi jalan yang dinilai belum memenuhi standar keamanan.

“Motor masih lancar, mobil kecil dan elf masih bisa. Tapi bus besar belum memungkinkan. Ini sangat berpengaruh karena bus biasanya membawa rombongan besar,” jelasnya.

Sejak kejadian longsor terjadi pada tanggal 9 Januari silam, aktivitas para pengemudi ojek wisata menurun dengan sangat drastis. Jika sebelumnya mereka dapat mengangkut banyak peziarah, kini hanya sedikit sekali kendaraan yang masuk ke kawasan Colo dalam sehari.

Abdurrahman menyebutkan bahwa rata-rata hanya dua hingga tiga mobil yang datang setiap hari, jauh berbeda dengan kondisi normal, terutama pada masa akhir pekan.

Paguyuban Ojek Colo memiliki sekitar 260 anggota pengemudi. Namun akibat faktor cuaca ekstrem, keterbatasan akses, dan sedikitnya jumlah wisatawan, sebagian besar dari anggota tersebut memilih untuk tidak beroperasi. Bahkan, jumlah pengemudi yang masih aktif dikatakan tidak mencapai 10 persen dari total keseluruhan anggota.

“Banyak teman-teman yang akhirnya libur. Kalau tidak ada penumpang, mau bagaimana lagi. Kondisinya memang berat,” ungkapnya.

Di pihak lain, pemerintah telah melakukan peninjauan langsung terhadap lokasi longsor. Pemerintah provinsi bekerja sama dengan Balai Jalan Nasional merencanakan untuk melakukan penguatan pada jalur lama sebagai solusi sementara agar akses ke kawasan dapat kembali dibuka. Target yang ditetapkan adalah perbaikan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan.

Para pengemudi ojek berharap proses perbaikan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan informasi mengenai kondisi akses dapat disampaikan secara jelas kepada masyarakat luas. Menurut mereka, kepastian informasi sangat penting agar wisatawan tidak merasa ragu untuk berkunjung.

“Kawasan Colo sebenarnya masih aman. Yang kami harapkan, akses segera normal dan wisatawan kembali datang supaya ekonomi warga bisa pulih,” pungkasnya.

(red)