Dari Warung Kecil ke Pusat Layanan Keuangan Desa, Mira Wati Sukses dengan Ketekunan dan Kemitraan BRILink

Kudus117 Dilihat

KUDUS – Ketekunan dan keberanian mengambil peluang menjadi kunci sukses Mira Wati, warga Dukuh Krajan, Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Perempuan yang telah menekuni usaha selama lebih dari satu dekade ini berhasil mengembangkan warung kelontong desa menjadi pusat layanan keuangan masyarakat melalui kemitraan sebagai Agen BRILink.

Mira Wati memulai usaha kecilnya sejak 2014 silam. Awalnya, ia hanya mengelola warung sederhana yang menjual kebutuhan pokok. Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berkembang dengan tambahan layanan fotokopi, pulsa, hingga akhirnya merambah layanan keuangan melalui BRILink.

“Awalnya cuma warung kecil. Dulu tokonya satu petak, lebarnya sekitar lima meter. Sekarang sudah berkembang sampai lebih dari 20 meter,” ujarnya, Kamis (15/1/2025).

Lebih lanjut, untuk Kemitraan dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dimulai sekitar sepuluh tahun lalu. Sebelumnya, ia terlebih dahulu menjadi nasabah pinjaman. Dari pengalaman itulah, Mira Wati kemudian ditawari untuk bergabung sebagai Agen BRILink.

Ia mengakui, pada awal bergabung sempat merasa ragu. Saat itu, layanan tersebut belum banyak dikenal masyarakat desa. Warga masih beranggapan bahwa transaksi perbankan hanya bisa dilakukan langsung di kantor bank.

“Dulu orang takut. Nabung kok di rumah, transfer kok di warung. Banyak yang mengira penipuan,” kenangnya.

Namun perlahan, ia terus meyakinkan warga sekitar. Dengan kesabarannya, Mira Wati memperkenalkan layanan tersebut dari mulut ke mulut. Bahkan, ia rela mendatangi sejumlah kantor unit BRI untuk mengenalkan diri dan membangun kepercayaan masyarakat.

Perjuangan tersebut tidak sia-sia. Kini, usaha miliknya menjadi salah satu pusat transaksi favorit warga. Mulai dari transfer, tarik tunai, pembayaran, hingga setor tabungan dapat dilakukan di tokonya.

“Alhamdulillah sekarang sudah ramai. Orang-orang sudah percaya dan terbiasa transaksi di sini,” tuturnya.

Keberhasilan Mira Wati tidak lepas dari dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Ia tercatat beberapa kali mengakses pinjaman dengan nominal berbeda. Pinjaman pertama sekitar Rp 30 juta digunakan untuk modal usaha. Selanjutnya, pinjaman meningkat hingga Rp 50 juta, dan terakhir mencapai Rp 300 juta.

“Pinjaman itu sangat membantu. Bunganya ringan dan tidak memberatkan. Semua saya gunakan untuk mengembangkan usaha dan memperbesar modal BRILink,” jelasnya.

Dari modal awal puluhan juta rupiah, kini perputaran dana BRILink miliknya mencapai ratusan juta rupiah. Selain itu, hasil pinjaman juga dimanfaatkan untuk renovasi toko yang dilakukan bertahap hingga tujuh kali pembangunan.

Selain layanan keuangan, Mira Wati juga jeli membaca situasi. Saat pandemi Covid-19 melanda dan usaha fotokopi menurun drastis, ia beralih memperkuat penjualan sembako. Keputusan tersebut terbukti tepat karena kebutuhan pokok justru semakin dibutuhkan masyarakat.

“Sejak pandemi saya fokus sembako. Ternyata malah berkembang dan dikenal sampai sekarang,” katanya.

Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu mulus. Ia mengaku pernah mengalami berbagai kendala, mulai dari salah transfer hingga penipuan. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan usaha.

“Kalau tidak pernah mengalami, mungkin saya tidak akan sewaspada sekarang,” ujarnya.

Kini, tokonya berfungsi layaknya minimarket desa yang menyediakan sembako, pulsa, layanan BRILink, hingga berbagai kebutuhan harian lainnya. Dengan dukungan pembiayaan KUR dan kemitraan, Mira Wati membuktikan bahwa usaha mikro di desa mampu tumbuh dan berdaya saing.

“Yang penting tekun, jujur, dan terus menjaga kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.

(red)