Simfoni Inspirasi Hari Santri: Dorong Santri Tak Cukup Ilmu Agama, Tapi Wirausaha dan Kuasai Teknologi

Written by

in

KUDUS — Santri didorong untuk tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan berwirausaha, menguasai teknologi, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Penguatan kompetensi tersebut dinilai sangat penting agar lulusan pesantren mampu mandiri secara ekonomi sekaligus berkontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Pesan-pesan inspiratif tersebut mengemuka dalam kegiatan bertajuk “Simfoni Inspirasi Hari Santri” yang digelar oleh Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) Kudus di Kedai Joglo Maqha, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, pada Selasa (13/10/2026).

Pengusaha sekaligus santri asal Kabupaten Jepara, Jadug Tri Mulyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka wawasan luas kepada lebih dari 200 peserta yang terdiri atas santri, mahasiswa, dan masyarakat sekitar. Kehadiran narasumber dengan berbagai latar belakang menunjukkan bahwa santri memiliki peluang luas untuk berkarier di berbagai bidang kehidupan.

Menurutnya, latar belakang pesantren sama sekali tidak membatasi seseorang untuk menjadi pengusaha, pendakwah, maupun pemimpin daerah. Justru sebaliknya, pendidikan pesantren dapat menjadi bekal berharga untuk membangun karakter dan kemampuan menghadapi tantangan masa depan.

Tri menjelaskan bahwa kedisiplinan, kompetensi, dan ilmu pengetahuan merupakan modal utama untuk meraih keberhasilan. Pesantren dinilai menjadi salah satu tempat terbaik yang mendukung pembentukan karakter tersebut melalui pembelajaran serta pembiasaan tata krama dalam kehidupan sehari-hari.

“Santri harus tetap semangat belajar dan tidak antiterhadap hal-hal baru. Jangan menjadi pribadi yang kolot, tetapi harus terbuka terhadap perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, santri tidak boleh hanya sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi perlu memahami dan mengembangkan teknologi secara lebih mendalam agar mampu menciptakan inovasi-inovasi baru.

Tri berharap pemerintah turut memberikan perhatian terhadap produk lokal, termasuk aplikasi percakapan dan teknologi kecerdasan buatan karya anak bangsa. Dukungan kebijakan dinilai dapat membuka peluang bagi produk dalam negeri untuk terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat global.

Sementara itu, Ketua Fatayat NU Jawa Tengah, Tazkiyyatul Muthmainnah, menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi dalam pengembangan lembaga pendidikan pesantren. Ia menyampaikan bahwa pesantren memiliki tiga fungsi utama, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat — termasuk pemberdayaan ekonomi.

Karena itu, ia berharap kewirausahaan mulai diperkuat dalam kurikulum pembelajaran di lingkungan pesantren. Dengan demikian, santri tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang baik, tetapi juga pengalaman langsung dalam mengelola usaha ketika menyelesaikan pendidikannya.

“Santri harus terus belajar, bekerja keras, adaptif, serta menguasai teknologi, bahasa, dan kemampuan berbicara di depan umum. Bekal itu penting di era digital agar tidak mudah dibohongi,” katanya.

Tazkiyyatul menilai kegiatan Simfoni Inspirasi Hari Santri menjadi ruang yang berharga untuk menggali pengalaman tokoh-tokoh yang berlatar belakang santri sekaligus menjadi sarana refleksi peringatan Hari Santri yang memasuki tahun kesebelas.

Selain kemandirian ekonomi, ia juga mengingatkan pentingnya perlindungan santri dari kekerasan seksual. Menurutnya, tidak ada ajaran agama apa pun yang membenarkan tindakan tersebut, sekalipun dilakukan oleh oknum di lingkungan pesantren.

Fatayat NU, lanjutnya, memiliki Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LKP3A) yang sejak tahun 2016 telah aktif mendampingi korban kekerasan. Pendampingan tetap dilakukan secara konsisten meskipun penanganan kasus yang melibatkan tokoh atau pihak berpengaruh sering kali menghadapi berbagai tantangan.

Ia mencontohkan pendampingan sejumlah kasus di Brebes serta kasus yang melibatkan yayasan pondok pesantren di Jawa Tengah, yang akhirnya berujung dengan dijatuhkannya vonis penjara kepada pelaku.

Melalui kegiatan ini, penguatan kapasitas santri diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pembentukan karakter yang tangguh, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, serta terciptanya lingkungan pesantren yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.

(red)